Eko Kristiawan berharap, program TJSL yang dilakukan Pertamina dapat memberikan manfaat luas bagi masyarakat dan satwa langka, sesuai dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Selain mencapai SDGs melalui program kolaboratif dengan masyarakat, Pertamina juga mendorong terwujudnya tiga bidang ESG yaitu environmental, social, dan governance.
Menurut perwakilan Kelompok Tani Buana Lestari Dede Ahmad, Pertamina hadir di Desa Cipaganti tak hanya mendorong konservasi satwa, tetapi juga mendorong pemberdayaan ekonomi petani kopi.
Puluhan ton kopi yang dihasilkan petani kini tak lagi dijual dalam bentuk biji mentah matang (ceri), tetapi mulai diolah sehingga memiliki nilai jual tinggi.
"Dulu petani kecil hanya tahu cara menjual kopi dalam bentuk ceri, sekarang mereka bisa mengolah sendiri menjadi gabah (green bean) atau kopi yang sudah di roasting. Secara tidak langsung, nilai ekonomi yang dihasilkan petani lebih tinggi," kata Dede Ahmad.
Para petani kopi di kelompok Tani Buana Lestari, ujar Acong sapaan akrab Dede Ahmad, mendapat pelatihan dari Pertamina dengan mendatangkan langsung ahli kopi. Para pemuda yang sebelumnya menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) pun kini memiliki lapangan kerja dengan mengolah kopi dari lingkungannya sendiri.
Saat ini, hasil olahan kopi dari kelompok tani di Desa Cipaganti telah memiliki brand sendiri yaitu Kopi Kang!. Pertamina juga membantu pemasaran Kopi Kang! melalui Kafe Kue Balok Mang Salam di Bandung. Sementara limbah kulit kopi juga dijual sebagai pupuk organik.
Editor : Agus Warsudi
disabilitas hak disabilitas pekerja disabilitas kaum disabilitas penyandang disabilitas penyandang disabilitas sukses pt pertamina pt pertamina (persero) kota bandung
Artikel Terkait