Ira Mambo, kuasa hukum Herry Wirawan. (Foto: iNews/Dokumentasi)
Agus Warsudi

BANDUNG, iNews.id - Herry Wirawan terpidana mati kasus pemerkosaan 13 santriwati di Kota Bandung, sampai saat ini belum menentukan sikap melakukan upaya hukum kasasi ke Mahkamah Agung (MA) atau tidak. Saat ini, Herry Wirawan dan kuasa hukumny masih menunggu salinan putusan dari Pengadilan TInggi (PT) Bandung.

Ira Mambo, kuasa hukum Herry Wirawan, mengatakan, belum menentukan sikap atas vonis hukuman mati yang dijatuhkan majelis hakim PT Bandung. Saat ini, kuasa hukum masih menunggu dokumen resmi putusan dari PT Bandung. 

"Iya (belum menentukan sikap, mengajukan kasasi ke MA atau tidak atas vonis PT Bandung). Kami harus lihat secara utuh menyeluruh isi putusannya. Kami belum menerima," kata Ira Mambo kepada wartawan, Senin (11/4/2022). 

Sementara itu, Panitera Muda Pidana Pengadilan Negeri (PN) Bandung Entis Sutisna mengatakan, salinan putusan dari PT Bandung memang belum diterima oleh PN Bandung.  Sehingga, belum ada pendaftaran untuk kasasi dari pihak terpidana, dalam hal ini Herry Wirawan. "Belum turun dari PT (Pengadilan Tinggi Bandung). Jadi belum ada (salinana putusan)," kata Entis Sutisna.

Diketahui, Herry Wirawan, terpidana pemerkosa 13 santriwati divonis hukuman mati oleh majelis hakim Pengadilan Tinggi (PT) Bandung. Dengan vonis itu, berarti PT Bandung mengabulkan banding yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejati Jabar. 

Pembacaan vonis diputuskan dalam sidang terbuka pada hari ini, Senin (4/4/2022). Hakim dalam putusannya juga memperbaiki putusan PN Bandung yang sebelumnya menghukum Herry Wirawan hukuman seumur hidup. 

"Menerima permintaan banding dari jaksa/penuntut umum. Menghukum terdakwa oleh karena itu dengan pidana mati. Menetapkan terdakwa tetap ditahan," kata majelis hakim PT Bandung yang diketuai oleh Herri Swantoro dalam dokumen putusan yang diterima, Senin (4/4/2022). 

Selain divonis mati, Herry Wirawan, sang predator seks anak-anak ini pun diwajibkan membayar restitusi atau ganti rugia kepada korban sebesar Rp330 juta lebih. "Membebankan restitusi kepada terdakwa Herry Wirawan alias Heri bin Dede," ucap hakim PT Bandung sebagaimana dokumen putusan yang diterima, Senin (4/4/2022). 

Hakim PT Bandung menyatakan ada empat elemen utama dari restitusi di antaranya ganti kerugian diberikan kepada korban atau keluarga, ganti kerugian materiil dan atau imateril yang diderita korban atau ahli warisnya, dibebankan kepada pelaku atau pihak ketiga dan berdasarkan putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap. 

"Bahwa di samping hal tersebut di atas, pembebanan pembayaran restitusi kepada negara akan menjadi preseden buruk dalam penanggulangan kejahatan kekerasan seksual terhadap anak-anak. Karena pelaku kejahatan akan merasa nyaman tidak dibebani ganti kerugian berupa restitusi kepada korban dan hal ini berpotensi menghilangkan efek jera dari pelaku," ujar Herri Swantoro. 

Dalam kasus ini, Herry Wirawan tetap dijatuhi hukuman sesuai Pasal 21 KUHAP jis Pasal 27 KUHAP jis Pasal 153 ayat ( 3) KUHAP jis ayat (4) KUHAP jis Pasal 193 KUHAP jis Pasal 222 ayat (1) jis ayat (2) KUHAP jis Pasal 241 KUHAP jis Pasal 242 KUHAP, PP Nomor 27 Tahun 1983, Pasal 81 ayat (1), ayat (3) jo Pasal 76.D UU RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo pasal 65 ayat (1) KUHP dan ketentuan-ketentuan lain yang bersangkutan.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT