Sejumlah orang berdiri di lokasi tanah dan bekas bangunan rumah semi permanen milik Undang (47) di Kampung Haurseah RT02 RW10, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut. (Foto: iNews.id/Fani Ferdiansyah)
fani ferdiansyah

GARUT, iNews.id - Aksi seorang rentenir wanita berinisial A yang merobohkan rumah warga di Kampung Haurseah, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, dinilai sangat keterlaluan. Bagaimana tidak, rentenir tersebut melakukan aksi nekatnya gegara utang Rp1,3 juta. 

Berikut fakta-fakta aksi nekat rentenir di Kabupaten Garut yang membuat miris:

1. Bunga pinjaman Rp350.000 per bulan

Kepala Desa Cipicung Uban Setiawan, mengatakan, keluarga Undang (47) meminjam uang Rp1,3 juta kepada rentenir untuk suatu keperluan. Namun, bukan hanya membayar biaya pokok utang, keluarga ini diwajibkan membayar uang Rp350.000 sebagai bunga di setiap bulannya. 

"Di tengah-tengah mereka tidak punya uang untuk membayar. Bu Sutinah (isteri Undang) pun memutuskan bekerja menjadi ART di Bandung agar dapat membayar utang tersebut," katanya. 

Undang sendiri sehari-hari dikenal bekerja serabutan. Menurut Uban, pekerjaan yang biasa dia lakukan adalah menjadi buruh cangkul.

"Jika tidak ada yang menyuruh bekerja, ya menganggur. Kalau nganggur itu Pak Undang mengasuh anaknya yang masih SD," ujarnya. 

2. Rutilahu Bantuan TNI

Terkuak fakta, rumah Undang yang dirobohkan rentenir tersebut sebelumnya sempat mendapat bantuan rehab rumah tidak layak huni (rutilahu). Bantuan tersebut diberikan pada 2017, saat Uban Setiawan belum menjabat Uban Setiawan sebagai Kepala Desa Cipicung. 

"Kalau tidak salah bantuan Rutilahu ini dari TNI," katanya.

Selain itu, keluarga Undang rutin mendapat bantuan dari pemerintah seperti PKH (Program Keluarga Harapan) dan BPNT (Bantuan Pangan Nontunai)," ujarnya. 

3. Rumah Undang Telah Dijual Sepihak Rp20,5 Juta

Rumah milik Undang (47) rupanya telah dijual sepihak pada rentenir sebelum dirobohkan. Rumah semi permanen berukuran 7x5 meter persegi itu dijual oleh kakak Undang bernama Entoh, warga Cibogo Banyuresmi, pada rentenir berinisial A. 

Dari informasi yang diterima MNC Portal Indonesia, penjualan rumah itu tercantum dalam kuitansi bermaterai yang diberikan rentenir dan ditandatangani Entoh pada 7 September 2022 lalu, dengan nilai Rp20.500.000. 

Di kuitansi ini tertulis uang tersebut diberikan Ai Mulyani atas penjualan satu unit rumah dengan luas tanah berikut bangunan 5 tumbak 80 cm, dengan sertifikat no NIB 00923 atas nama Undang. 

"Saya tidak tahu rumah saya sudah dijual oleh kakak saya Pak Entoh itu. Rumah dirobohkan juga saya tidak tahu menahu, tiba-tiba sudah tidak ada, sudah bersih," kata Undang.


4. Utang Membengkak Jadi Rp15 Juta

Utang Undang ke rentenir tersebut mencapai Rp15 juta. Waktu melapor polisi,Undang tidak menyampaikan bila rumahnya telah dijual Entoh seharga Rp20,5 juta.
 
Sementara Entoh sendiri tidak menerima uang Rp20,5 juta, melainkan Rp5,5 juta, hasil dipotong dengan pelunasan ke rentenir. Uang tersebut kemudian dibagikan oleh Entoh pada ahli waris almarhumah Ika, ibu kandung Undang dan Entoh.  

5. Ancaman Hukuman Ringan 

Aparat kepolisian memastikan kasus rentenir merobohkan rumah warga di Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, diproses secara hukum. 

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Garut AKP Dede Sopandi mengatakan, pihaknya telah memintai keterangan sejumlah warga, termasuk rentenir wanita berinisial A. 

Menurut dia, rentenir wanita tersebut tak menjalani penahanan, karena pasal yang menjeratnya hanya memiliki ancaman hukuman dua tahun penjara. 

"Tidak bisa ditahan karena ancaman hukumannya di bawah 5 tahun dan bukan pasal pengecualian," ucapnya.


Editor : Asep Supiandi

BERITA TERKAIT