Rumah panggung semipermanen milik Undang di Kampung Haurseah, Desa Cipicung, Garut, telah rata tanah. Rumah itu dirobohkan rentenir A karena Undang tak mampu membayar utang pokok Rp1,3 juta yang membengkak jadi Rp15 juta. (FOTO: FANI FERDIANSYAH)
fani ferdiansyah

GARUT, iNews.id - Aparat kepolisian memastikan kasus rentenir merobohkan rumah warga di Kampung Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, diproses secara hukum. A, rentenir yang merobohkan rumah itu tidak ditahan karena hanya terancam hukuman 2 tahun penjara.

Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Garut AKP Dede Sopandi mengatakan, pihaknya telah memintai keterangan sejumlah warga, termasuk rentenir wanita berinisial A. "Sudah ditangani, sedang diproses," kata  Kasatreskrim Polres Garut, Sabtu (17/9/2022). 

Pemeriksaan oleh aparat kepolisian, ujar AKP Dede Sopandi, pertama kali dilakukan saat Undang (47) dan Sutinah (58), warga Kampung Haurseah, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, melayangkan laporan ke Polsek Banyuresmi pada Kamis (15/9/2022) siang. 

Penanganan perkara dalam kasus ini kemudian berlanjut pada pelimpahan ke Satreskrim Polres Garut. Sejak saat itu, Undang dan Sutinah selaku korban serta sejumlah warga menjalani pemeriksaan secara maraton. Tak luput, rentenir berinisial A turut dijemput petugas kepolisian untuk diperiksa.

"Pasal yang dikenakan (terhadap rentenir A) Pasal 406 tentang Perusakan," ujar AKP Dede Sopandi. 

Kasatreskrim Polres Garut menuturkan, wanita rentenir tersebut tak ditahan karena pasal yang menjeratnya hanya memiliki ancaman hukuman 2 tahun penjara. "Tidak bisa ditahan karena ancaman hukumannya di bawah 5 tahun dan bukan pasal pengecualian," tuturnya. 

Kasus rentenir merobohkan rumah warga Garut ini setidaknya memang memenuhi Pasal 406 ayat (1). Merujuk pada laman sumber informasi hukum yuridis.id, ayat (1) di pasal tersebut berbunyi bahwa:

"Barangsiapa dengan sengaja dan dengan melawan hak membinasakan, merusakkan, membuat sehingga tidak dapat dipakai lagi atau menghilangkan sesuatu barang yang sama sekali atau sebagiannya kepunyaan orang lain, dihukum penjara selama-lamanya dua tahun delapan bulan atau denda sebanyak-banyaknya Rp4.500,— (K.U.H.P. 231-235, 407, 411 s, 489)." 

Diketahui, duduk perkara persoalan itu bermula dari istri Undang, Sutinah yang meminjam uang pada rentenir berinisial A sebesar Rp1,3 juta. Sebagai jaminan, sertifikat rumah mereka diserahkan pada rentenir. 

Dalam perjalanannya, Sutinah dan Undang tak mampu membayar bunga sebesar Rp350.000 per bulan sejak Januari 2022 hingga September ini. Utang pun kemudian membengkak menjadi Rp15 juta. 

Kemudian, kakak kandung Undang, Entoh, warga Cibogo, Kecamatan Banyuresmi, menjual rumah tersebut seharga Rp20,5 juta pada rentenir. Bukti jual beli tercantum pada kwitansi bermaterai yang diberikan rentenir dan ditandatangani Entoh pada 7 September 2022 lalu. 

Di kwitansi ini tertulis uang tersebut diberikan Ai Mulyani atas penjualan satu unit rumah dengan luas tanah berikut bangunan 5 tumbak 80 cm, dengan sertifikat no NIB 00923 atas nama Undang. Entoh tak menerima uang itu secara utuh, melainkan hanya Rp5,5 juta hasil dipotong seluruh utang pada rentenir. 

Rentenir yang berdomisili di Kampung Sargenteng, Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, itu kemudian menyuruh sejumlah warga lain untuk melakukan pembongkaran, dengan dalih telah merasa membeli rumah dan tanah tersebut, pada Sabtu (10/9/2022). 

Proses jual beli hingga pembongkaran rumah terjadi saat Undang dan keluarganya berada di Bandung untuk bekerja. Mereka kaget bukan main saat mengetahui bangunan rumah semi permanen yang biasa ditempati telah rata dengan tanah.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT