Undang (47), warga Kampung Haurseah, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, Kabupaten Garut, terduduk saat memperhatikan tanah kosong bekas rumah semipermanen miliknya yang dipasangi garis polisi, Sabtu (17/9/2022). (FANI FERDIANSYAH)
fani ferdiansyah

GARUT, iNews.id - Camat Banyuresmi Eli Nurhayati menilai tindakan rentenir yang merobohkan rumah warga tidak memiliki hati nurani dan tidak memiliki simpati kepada warga miskin. Karena itu, Camat Banyuresmi meminta rentenir ditindak tegas seusai hukum.

"Tidak ada rasa simpati kepada masyarakat. Rentenir itu merobohkan rumah warga yang memang betul-betul mendapat bantuan rutilahu, berarti orang yang betul-betul miskin," kata Camat Banyuresmi, Sabtu (17/9/2022). 

Menurut dia, rentenir berinisial A tersebut telah mencari kesempatan dalam kesempitan. "Mengambil harta berupa rumah dan tanah, bukan harga yang sebanding dengan pinjaman. Jauh sekali, bunga berbunga," ujar Eti Nurhayati.

Eti Nurhayati pun berharap aparat kepolisian mengambil keputusan terbaik, terutama menindak tegas rentenir yang telah meresahkan masyarakat tersebut. "Jangan lagi ada meminjam ke rentenir dan pinjaman lainnya yang tidak legal," tutur Camat Banyuresmi. 

Senada dengan Camat Banyuresmi, Undang (47), warga Kampung Haurseah, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, yang rumahnya dibongkar rentenir, berharap kejadian serupa tak terulang di kemudian hari. 

Undang, pemilik rumah, mengatakan, meminjam uang kepada rentenir bukan menyelesaikan masalah, tapi malah menimbulkan persoalan yang sangat besar. "Jangan ada yang seperti saya pinjam ke rentenir. Saya korbannya," kata Undang. 

Undang dan keluarganya pun telah memasrahkan kasus tersebut untuk diproses hukum oleh pihak berwajib. "Diserahkan saja pada hukum yang berlaku," ujarnya.
 
Duduk perkara persoalan itu bermula dari istri Undang, Sutinah (58), yang meminjam uang pada rentenir berinisial A sebesar Rp1,3 juta. Sebagai jaminan, sertifikat rumah mereka diserahkan pada rentenir. 

Dalam perjalanannya, Sutinah dan Undang tak mampu membayar bunga sebesar Rp350.000 per bulan sejak Januari 2022 hingga September ini. Sehingga, utang pun kemudian membengkak menjadi Rp15 juta. 

Kemudian, kakak kandung Undang, Entoh, warga Cibogo, Kecamatan Banyuresmi, menjual rumah tersebut seharga Rp20,5 juta pada rentenir. Bukti jual beli tercantum pada kwitansi bermaterai yang diberikan rentenir dan ditandatangani Entoh pada 7 September 2022 lalu. 

Di kwitansi ini tertulis uang tersebut diberikan Ai Mulyani atas penjualan satu unit rumah dengan luas tanah berikut bangunan 5 tumbak 80 cm, dengan sertifikat no NIB 00923 atas nama Undang. Entoh sendiri tak menerima uang itu secara utuh, melainkan hanya Rp5,5 juta hasil dipotong seluruh utang pada rentenir. 

Rentenir yang berdomisili di Kampung Sargenteng, Desa Bagendit, Kecamatan Banyuresmi, itu kemudian menyuruh sejumlah warga lain untuk melakukan pembongkaran, dengan dalih telah merasa membeli rumah dan tanah tersebut, pada Sabtu (10/9/2022). 

Proses jual beli hingga pembongkaran rumah terjadi saat Undang dan keluarganya berada di Bandung untuk bekerja. Mereka kaget bukan main saat mengetahui bangunan rumah semi permanen yang biasa ditempati telah rata dengan tanah.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT