Kwitansi pembayaran uang Rp20,5 juta dalam bentuk tanah milik Undang. (FOTO: FANI FERDIANSYAH)
fani ferdiansyah

GARUT, iNews.id - Rumah panggung semipermanen milik Undang, warga Kampung Haurseah RT02 RW10, Desa Cipicung, Kecamatan Banyuresmi, dirobohkan rentenir berinisial A. Penyebabnya, utang Rp1,3 juta membengkak menjadi Rp15 juta.

Komandan Koramil 1110 Banyuresmi Kapten Inf TNI Enjang Santana mengatakan, rumah itu dijual Entoh, kakak kandung Undang kepada rentenir karena nilai utang keseluruhan yang belum dibayarkan membengkak, yaitu mencapai Rp15 juta. Padahal semula, nilai utang pokok hanya Rp1,3 juta. 

"Entoh ini tidak tahu jika utang yang sebenarnya Rp1,3 juta. Dia hanya mendapat informasi bahwa hutang ke rentenir itu mencapai Rp15 juta. Begitu juga dengan Undang. Waktu lapor polisi tidak menyampaikan bila rumahnya telah dijual Entoh seharga Rp20,5 juta," kata Danramil 1110 Banyuresmi. 

Entoh, tidak menerima uang Rp20,5 juta, melainkan Rp5,5 juta. Hasil penjualan dipotong dengan pelunasan utang ke rentenir. Uang tersebut kemudian dibagikan oleh Entoh kepada ahli waris almarhumah Ika, ibu kandung Undang dan Entoh. 

"Kenapa Entoh menjual, karena tanah dan bangunan itu bukan milik Undang, melainkan warisan dari Ibu Ika, orang tua Undang dan Entoh sendiri. Hasil uang Rp5,5 juta dibagi rata pada anak-anak Ibu Ika," ujar Kapten Inf TNI Enjang Santana.  

Danramil 1110 Banyuresmi menuturkan, kasus utang piutang dengan rentenir itu telah berlangsung sejak lama. Berdasarkan informasi yang diterima, Sutinah (58), isteri Undang, mulai tak membayar angsuran bunga pada rentenir tersebut sejak Januari 2022.

"Ibu Sutinah tidak membayar hutang dan bunga ke rentenir sejak Januari hingga September ini. Hingga akhirnya rumah dan sertifikat yang dijaminkan dijual ke rentenir," tutur Danramil 1110 Banyuresmi.

Kapten Inf TNI Enjang Santana memastikan rumah bantuan program rutilahu untuk Undang dan keluarganya masih tegak berdiri. Bangunan yang dirobohkan rentenir merupakan rumah panggung semi permanen. 

"Karena bangunannya menempel, jadi saat rentenir membongkar rumah panggung, sebagian atap dari rehab Rutilahu yang dibangun 2017 lalu ikut terseret. Secara keseluruhan masih utuh," kata Kapten Infanteri Enjang Santana, Sabtu (17/9/2022). 

Diketahui, penjualan rumah itu tercantum dalam kwitansi bermaterai yang diberikan rentenir dan ditandatangani Entoh pada 7 September 2022 lalu, dengan nilai Rp20.500.000. Di kwitansi ini tertulis uang tersebut diberikan Ai Mulyani atas penjualan satu unit rumah dengan luas tanah berikut bangunan 5 tumbak 80 cm, dengan sertifikat no NIB 00923 atas nama Undang. 

Proses pembongkaran sendiri berlangsung pada Sabtu (10/9/2022) oleh orang-orang suruhan rentenir. Rentenir tersebut merasa berhak membongkar rumah yang ditempati Undang karena telah memilikinya. 

"Saya tidak tahu rumah saya sudah dijual oleh kakak saya Pak Entoh itu. Rumah dirobohkan juga saya tidak tahu menahu, tiba-tiba sudah tidak ada, sudah bersih," kata Undang di sekitar lokasi bekas bangunan rumahnya. 

Undang pun tak habis pikir mengapa ia tak diberitahu jika rumahnya telah dijual. Pasalnya, sertifikat tanah dan bangunan tercatat atas nama dirinya. 

"Soal kwitansi itu saya tidak tahu, soalnya saya sedang di Bandung. Itu jual belinya Pak Entoh dengan Bu Ai, kan sertifikat atas nama saya, harusnya ada izin dari saya," ujarnya. 

Kini, lokasi tanah dan bekas rumah Undang di Kampung Haruseah itu telah dipasangi garis polisi oleh aparat Polres Garut. Undang dan isterinya beserta sejumlah saksi berikut rentenir berinisial A pun telah diperiksa petugas di Mapolres Garut. FANI FERDIANSYAH


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT