Jolie Agustina Tiono didampingi kuasa hukum Arry Djamari Siregar mengirimkan surat ke Presiden Jokowi untuk meminta keadilan. (Foto: iNews/AGUS WARSUDI)
Agus Warsudi

BANDUNG, iNews.id - Lima ahli waris almarhum Tiono, mengirimkan surat ke Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada 8 Desember 2021. Kelima ahli waris itu mengadukan kasus dugaan mafia tanah yang mencaplok tanah milik almarhum orang tua mereka.

Jolie Agustina Tiono (64) mewakili empat saudaranya mengirimkan surat nomor 01/Pengaduan/XII/2021 ke Presiden Jokowi untuk mencari keadilan atas masalah yang menimpa keluarganya. Pasalnya, sejak rumah dan tanah warisan almarhum ayah, Jolie dan saudara-saudaranya hidup telantar.

Mereka terusir dari tanah warisan itu karena telah dikuasi oleh B, seorang pengusaha. "Saya dan saudara-saudara saya mencari keadilan, menagih janji Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk memberantas mafia peradilan dan ganyang mafia tanah. Tolong berantas mafia tanah dan kembalikan hak-hak kami atas tanah hasil pembelian ayah kami," kata Jolie ditemui saat menggelar konferensi pers di Kota Bandung, Selasa (14/12/2021).

Jolie menyatakan, upaya mencari keadilan telah ditempuh keluarga ini. Tetapi, di Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya dan Mahkamah Agung (MA) mereka kalah. Sehingga tanah dan rumah warisan di Jalan Raya Mastrip Kelurahan Jajar Tunggal, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Jawa Timur, masih dikuasai oleh B.

Selain menyurati Presiden Jokowi, Jolie juga mengajukan permohonan Peninjauan Kembali (PK) atas putusan MA. Perkara Perdata Peninjauan Kembali yang diajukan Jolie dan keluarganya dengan register Nomor: 831/Pdt.G/2018/PN Sby juncto Nomor: 612/Pat/2019/PT.Sby juncto Nomor: 262 K/Pdt/2021 dimana kedudukan saya sebagai Pemohon Peninjauan Kembali/Penggugat dari Rony Fredy Tiono dan kawan-kawan.

Tanah warisan di Jalan Raya Mastrip, Kelurahan Jajar Tunggal, Kecamatan Wiyung, Kota Surabaya, Jawa Timur seluas 3.050 itu, ujar Jolie, berpindah tangan setelah orang tuanya Tiono meninggal dunia. 

"Tanah itu, dibeli oleh orang tua saya pada 21 Agustus 1961. Sejak dibeli, memang keluarga tak menggunakan lahan tersebut. Keluarga mengizinkan lahan itu digunakan oleh orang lain untuk ditempati," ujar Jolie.

Pada 1988, Jolie dan saudara-saudaranya mendapatkan informasi sertifikat lahan di Jalan Mastrip yang saat ini bernilai Rp45 miliar tersebut sudah berpindah tangan ke orang lain. Padahal 5 ahli waris sah tanah tersebut sama sekali tidak pernah menjual tanah tersebut.

Usut punya usut, tanah itu dijual oleh penghuni liar atas rekayasa kakak ipar Yamin Wiyanto, suami dari Leli. Lahan tersebut dibeli oleh BST dari Yamin secara tidak sah. "Jadi pada 1988 dibuat seolah-olah para penghuni liar menjual tanah itu ke BST. Para penghuni liar mendapatkan kompensasi dengan besaran antara Rp100.000 hingga Rp250.000," tutur Jolie.

Berbagai upaya telah dilakukan keluarga Jolie untuk mendapatkan kembali hak atas lahan tersebut. Salah satunya mengajukan gugatan ke Pengadilan Negeri (PN) Surabaya pada 2017 lalu. Dalam gugatan perdata itu, ahli waris menggugat seseorang bernama BST.

Akan tetapi gugatan tersebut mentah di pengadilan. Hakim PN Surabaya memvonis tak menerima gugatan tersebut. "Akhirnya kami menggugat hal ini ke Pengadilan Negeri Surabaya pada 2017 dengan putusan tidak diterima," tuturnya.

Pada 2018, gugatan kedua kembali dilayangkan. Salah seorang yang menempati lahan di Jalan Mastrip tersebut turut dihadirkan. Dalam persidangan itu keluarga yang menempati lahan mengaku tak pernah menjual tanah ke orang lain.

"Dia mengakui hanya penghuni yang diberi izin kakak saya pada 1985 untuk menggunakan tanah itu. Jadi bukan sebagai pemilik," ucap Jolie.

PN Surabaya memenangkan keluarga Jolie setelah menunjukkan bukti sertifikat BPN yang mencantumkan nama ayahnya, almarhum Tiono. Akan tetapi, pihak tergugat BST mengajukan banding ke PT Surabaya.

Namun hakim PT Surabaya menganulir putusan hakim PN Surabaya dan memenangkan tergugat. Selanjutnya, Jolie dan empat saudaranya berupaya memperoleh keadilan melalui kasasi ke MA. Sayangnya, di MA menemui jalan buntu, karena hakim menolak kasasi. "Hakim MA tidak melihat bukti dan saksi yang dihadirkan. Hanya dianggap sebagai penghargaan," ujar Jolie.

Sementara itu, Arry Djamari Siregar, kuasa hukum Jolie dan ahli waris lain mengatakan, penggugat akan kembali mengajukan PK guna mendapatkan keadilan dan hak atas tanah yang harusnya milik klien. Ahli waris meminta perhatian sesuai program Presiden yang akan memberantas mafia tanah dan peradilan. "PK sudah diajukan Oktober 2021," kata Arry Djamari Siregar, pengacara yang berkantor di Bandung.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT