Rokhmin Dahuri Yakin Sektor Ini Jadi Solusi Krisis Ekonomi akibat Pandemi

Agung Bakti Sarasa · Selasa, 15 Juni 2021 - 10:28:00 WIB
Rokhmin Dahuri Yakin Sektor Ini Jadi Solusi Krisis Ekonomi akibat Pandemi
Ketua Umum MAI Pusat, Rokhmin Dahuri (berbatik) melantik pengurus Korda MAI Jabar periode 2020-2024, Senin (14/6/2021). (Foto: iNews.id/Agung Bakti Sarasa)

BANDUNG, iNews.id - Ketua Umum Masyarakat Akuakultur Indonesia (MAI) Pusat, Rokhmin Dahuri menilai, potensi sektor perikanan budidaya atau akuakultur di Indonesia, termasuk Provinsi Jawa Barat sangat berlimpah. Sektor akuakultur ini menjadi salah satu solusi mengatasi krisis ekonomi di masa pandemi Covid-19.

Selain itu, dengan potensinya yang berlimpah, mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu berharap, Provinsi Jabar dapat mengoptimalkan sektor akuakultur sebagai sumber daya baru bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Jabar.

"Harapan saya, sektor budidaya perikanan atau akuakultur ini bisa menjadi sumber daya baru pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan bagi masyarakat, baik di tingkat nasional maupun Jabar," ujar Rokhmin dalam kegiatan Pelantikan Pengurus Koordinator Daerah (Korda) MAI Jabar periode 2020-2024 yang digelar di Pullman Hotel, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin (14/6/2021) petang. 

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) itu menerangkan bahwa sektor akuakultur mencakup perikanan budidaya di laut atau mariculture, perikanan budidaya di perairan payau atau tambak atau coastal aquaculture, dan perikanan budidaya di perairan tawar atau darat, seperti di danau, waduk, sungai, kolam, sawah atau minapadi, akuarium, dan wadah lainnya.

Rokhmin mencontohkan, marikultur sebagai subsektor akuakultur bukan hanya menghasilkan sumber pangan protein berupa berbagai jenis ikan, kekerangan (moluska), dan crustacean (udang, lobster, kepiting, rajungan, dan lainnya), namun juga sumber bahan baku industri farmasi, kosmetik, perhiasan, cat, film, biofuel, dan ratusan jenis industri lainnya yang membutuhkan bahan baku dari micro algae, macro algae, avertebrata, dan biota (organisme) laut lainnya. 

"Jika dikelola secara profesional, maka dapat memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan," katanya. 

Rokhmin yakin, akuakultur menjadi solusi dalam upaya mengentaskan kemiskinan, termasuk keluar dari krisis ekonomi akibat pandemi Covid-19. Terlebih, kata dia, modal yang dikeluarkan untuk pengembangan akuakultur tidak terlalu besar dan masa panen yang relatif singkat.

"Misalkan, rumput laut dapat dipanen dalam waktu 45 hari, kemudian udang 100 hari. Untungnya besar dan sebagian masyarakat mampu berbudidaya," kata Rokhmin seraya mengatakan bahwa potensi pasar akuakultur pun masih sangat besar. 

Tidak hanya itu, Rokhmin juga menilai, aktivitas pengembangan akuakultur yang lebih banyak dilakukan di desa-desa ketimbang perkotaan. Hal itu menurutnya dapat menolong bangsa Indonesia mengatasi persoalan yang cukup penting, yaitu disparitas pembangunan antarwilayah. 

Editor : Asep Supiandi

Halaman : 1 2 3