Cerita Sahabat Korban Bentrokan di Lahan PG Jatitujuh, Budi Dalton: Pileuleuyan Uyut Enda

Inin nastain · Jumat, 08 Oktober 2021 - 12:36:00 WIB
Cerita Sahabat Korban Bentrokan di Lahan PG Jatitujuh, Budi Dalton: Pileuleuyan Uyut Enda
Buyut Enda (pake ikat rambut merah putih) bersama Didin Aminudin (kaos) putih dalam sebuah acara seni. (Foto: Istimewa). 

MAJALENGKA, iNews.id - Kabar meninggalnya Suhenda alias Buyut Enda, warga Desa Sumber Kulon, Kecamatan Jatitujuh, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, menyisakan kesedihan bagi sahabat dan kerabat. Salah satunya datang dari seniman Sunda, Budi Dalton yang menyatakan bela sungkawa terhadap korban tewas saat bentrokan maut di Indramayu, Senin (4/10/2021) lalu.

Lewat unggahan akun Budi Dalton dengan nama Budi Dalton Official di Instagram, seniman asal Kota Bandung ini menyampaikan ucapan bela sungkawanya.

"Pileuleuyan Uyut Enda.. (korban meninggal perebutan lahan). Mugi dugi ka alam padang poe panjang Nagara Tunjung sampurna, aya dina katingtriman. Kebat taya hahalang dugi KA pangkonan Gusti. Ahuuuung sawelaas X Ahuuung," tulis Budi Dalton untuk keterangan unggahan foto dirinya bersama almarhum.

Dalam unggahan itu, Budi juga mencantumkan kutipan dari Uyut Enda. "Orang yang datang ke 'orang pintar' adalah orang bodoh (Uyut Enda)."

Selain itu, tidak sedikit sahabat almarhum yang tidak percaya Buyut meninggal dengan cara tragis, penuh dengan luka bacok di bagian tubuhnya. Sejumlah sahabat almarhum mengaku masih sempat berkomunikasi beberapa hari sebelum kabar pilu itu tiba. Bahkan, beberapa jam sebelum Buyut dikabarkan meninggal, sebagian sahabatnya masih berkomunikasi lewat WhatsApp.

Buyut sendiri, selama hidup diketahui memiliki kedekatan dengan para penggiat di komunitas, baik komunitas seni dan budaya, maupun komunitas hoby lainnya. Alhasil, tidak aneh jika dia cukup dikenal oleh banyak orang, termasuk di luar Majalengka.

Embun, Ketua Komunitas Hujan Keruh adalah salah satu sahabat almarhum yang cukup merasa kehilangan. Bagi Embun, Buyut adalah sosok yang cukup hangat saat berinteraksi dengan siapapun, termasuk dengan mereka yang usianya di bawahnya.

"Saya kenal dengan Buyut dari aktivitas komunitas. Awalnya agak sungkan karena almarhum kan pimpinan padepokan. Namun ternyata dia tidak membatasi diri. Dengan siapa pun, dia cukup hangat," kata Embun, Jumat (8/7/2021).

Di luar kehangatan saat berinteraksi, almarhum yang meninggalkan janin usia 7 bulan itu juga dikenal memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Sejumlah kegiatan sosial yang dihelat padepokan ya, jadi salah satu bukti tingginya jiwa sosial Buyut saat masih hidup.

"Selalu aja ada kegiatan-kegiatan sosial. Itu yang emang eventnya diramaiin ya, belum lagi yang sifatnya pribadi. Almarhum itu orangnya nggak senang kalau liat sahabatnya sedih," ujar Embun.


Ocky Sandi, Ketua Dewan Kesenian Majalengka (Dekma) memiliki pandangan tersendiri terhadap sosok almarhum. Dia sendiri memiliki hubungan yang cukup lama dengan almarhum, dalam bidang seni.

"Almarhum selalu merasa sangat bahagia bila dapat membantu sesama. Makanya selalu mengadakan kegiatan-kegiatan sosial, sembari menghayati momen-momen hari besar nasional dan Islam," kata dia.

Editor : Asep Supiandi

Halaman : 1 2 3

Follow Berita iNewsJabar di Google News

Bagikan Artikel: