Ilustrasi pencabulan. (Foto: Istimewa)
Dila Nashear

BANDUNG, iNews.id - Pemkab Bandung melalui Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP2KBP3A) ikut merespons kasus dugaan pencabulan pimpinan ponpes terhadap santriwatinya. DP2KBP3A pun menyiapkan langkah-langkah guna mengusut keterlibatan pimpinan ponpes itu.

"Kami telah berkoordinasi dengan unsur Desa Gandasari (lokasi ponpes tersebut) dan melakukan rapat bersama pihak-pihak terkait termasuk lembaga (perempuan dan anak) pusat," kata Kepala DP2KBP3A Kabupaten Bandung Muhammad Hairun, Kamis (18/8/2022).

Hairun menegaskan, yang menjadi sasaran pihak DP2KBP3A bukanlah terduga pelaku, melainkan santriwati yang terindikasi telah menjadi korban pencabulan. Pasalnya, mental serta psikologi korban jadi prioritas.

"Hanya saja, korbannya belum jelas juga, identitasnya siapa, dimana alamatnya. Sehingga, kami telah menginstruksikan bidang PPA, untuk turun ke lapangan demi melacak identitas korban," ujarnya.

Menurut Hairun, upaya kroscek ini penting sehingga memastikan berapa jumlah korban kasus dugaan pencabulan oleh pimpinan ponpes tersebut. Selain itu, agar pihaknya tahu bantuan apa saja yang dibutuhkan.

"Apabila sudah terindikasi identitas korban dan berapa jumlahnya, DP2KBP3A siap memfasilitasi bantuan mulai dari upaya perlindungan hukum sampai pengobatan mental dan psikologi korban," tuturnya.


Namun, lanjut Hairun, hingga saat ini pihaknya mewakili Pemkab Bandung belum mendapat kepastian jumlah korban yang diduga alami pencabulan. Karena dari kepolisian pun masih menyelidiki kasus ini.

"Walau begitu kami imbau, agar para korban bersedia menunjukkan diri untuk diberikan perlindungan, pengobatan, dan hak-hak lainnya. Kami tentu siap melindungi dan mengawal proses hukumnya," kata Hairun.

Sebelumnya, seorang Pimpinan Pondok Pesantren (Ponpes) di kawasan Katapang, Kabupaten Bandung dilaporkan kepada pihak kepolisian atas dugaan pencabulan yang dilakukan terhadap para santriwatinya.


Kuasa Hukum salah satu korban, Deki Rosdiana mengatakan dari pengakuan korban yang didampingi olehnya tindakan pencabulan itu telah terjadi sejak 2016 yang pada saat itu masih berusia sekira 14 tahun.

Dari hasil pendalaman, Deki menduga ada korban lain yang mengalami hal serupa. Bahkan jumlahnya bisa puluhan, karena berdasarkan pengakuan kliennya ada 12 santriwati yang juga turut menjadi korban.

"Ditambah 4 pegiat rohani Islam alias rohis yang juga jadi korban cabul. Karena pelaku (Pimpinan Ponpes di Kabupaten Bandung) itu juga melakukan aksi pencabulan dengan modus pengobatan ruqyah" ucap Deki.


Editor : Asep Supiandi

BERITA TERKAIT