Objek wisata Situ Gede di Kota Tasikmalaya. (FOTO: ISTIMEWA/GAUNGPLUS)
Amelia Ayu Aldira

JAKARTA, iNews.id - Sejarah danau Situ Gede di Tasikmalaya menjadi objek wisata sejak zaman penjajahan Belanda. Keindahan alam Situ Gede membuat takjub para pengunjung danau. 

Tasikmalaya adalah salah satu kota di Jawa Barat. Banyak wisatawan mengunjungi Tasikmalaya untuk melihat budaya, adat, kuliner, dan objek wisata. Oleh karena itu, Kota Tasikmalaya mengembangkan pariwisata dengan melengkapi berbagai fasilitas, seperti, hotel, resor, pusat perbelanjaan, dan transportasi umum. 

Secara geografis, Kota Tasikmalaya terletak antara 7°02’29”-7°49’08” Lintang Selatan dan 107°54’10”-108°26’42”  Bujur Timur. Terdapat beberapa gunung, terutama di bagian timur kabupaten, seperti yang terlihat di bagian timur laut tempat Gunung Galunggung berada.

Ketinggian rata-rata kota adalah antara 200-500 meter meter di atas permukaan laut (MDPL). Tetapi hanya 13,05 persen bagian kota terletak di dataran rendah antara 0 hingga 200 meter. Sisanya mendaki ke ketinggian puncak.

Kota Tasikmalaya secara administratif terdiri atas 10 kecamatan, 69 kelurahan dan tiga kecamatan termasuk wilayah pesisir dan laut, yaitu kecamatan Cikalong, Cipatujah, Karangnunggal. Dengan itu, Kota Tasikmalaya secara geografis lengkap, dilintasi oleh rangkaian gunung berapi di Pulau Jawa.

Tanah Kota Tasikmalaya subur karena berada di lereng pegunungan dan didukung oleh mata air melimpah. Suhu di kota Tasikmalaya berkisar antara 20 dan 30 derajat.

Legenda Situ Gede
Situ Gede atau Danau Besar merupakan salah satu tempat wisata di pusat Kota Tasikmalaya. Situ Gede memiliki luas sekitar 47 hektare. Untuk sampai ke objek wisata ini hanya butuh waktu 30 menit dari pusat Kota Tasikmalaya. 

Situ Gede tidak hanya memiliki alam yang indah, tetapi juga legenda. Cerita ini terkait dengan sebuah makam di pulau tengah danau yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir Eyang Prabudilaya.

Kisah berawal, Eyang Prabudilaya memiliki dua istri bernama Sekar Karembong yang kini dimakamkan di Bantar. Sedangkan istri kedua, Sembadrem belum diketahui di mana tempat persemayaman terakhirnya.

Kedua istri Eyang Prabudilaya saling mencari setelah suami mereka pergi. Istri pertama mencari ke tempat istri kedua dan sebaliknya. Pencarian itu membuahkan hasil. Sang suami ditemukan tergeletak di suatu tempat.

Namun saat ditemukan, Eyang Prabudilaya telah terbunuh. Tempat terbunuhnya Eyang Prabudilaya dinamakan Situ Cibeureum. Oleh para pengikutnya, Eyang Prabudilaya digotong menggunakan kain sarung yang diikat ke bambu panjang.

Bambu patah selama perjalanan, tetapi dapat dihubungkan kembali dengan tanah kemudian diletakkan kembali di tandu. Saat ini, daerah yang menghubungkan bambu dengan tanah disebut Mangkubumi. 

Perjalanan berlanjut, tetapi setelah berjalan jauh, tiba-tiba pengikutnya nagog atau berjongkok. Lokasi tempat nagog itu saat ini disebut nagrog. Setelah berjalan jauh, pengikut Eyang Prabudilaya melewati suatu tempat yang berudara dingin dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. 

Tempat peristirahatan itu dulu disebut kawasan maniis. Setelah lama beristirahat, jenazah Eyang Prabudilaya dibawa dan akhirnya dimakamkan di sebuah pulau di tengah Situ Gede.

Ketinggian air di tepi pulau di tengah-tengah Situ yang masih didiami masyarakat Maniis timur laut Situ Gede ini selalu sama pada musim kemarau dan musim hujan. Fenomena ini menunjukkan pulau terapung tidak bersentuhan dengan dasarnya. 

Mitos menyebutkan, pasangan kekasih yang datang ke Situ Gede mau tidak mau akan hidup terpisah. Cerita lain, Situ Gede ada kaitannya dengan Situ Panjalu di Kabupaten Ciamis. Keterkaitan tersebut berasal dari keberadaan ikan Si Kokol yang terus berpindah dari Situ Gede ke Situ Panjalu dan sebaliknya.

Situ Gede dengan sunset yang indah. Selain itu, objek wisata ini juga memiliki pemandangan indah dengan perpaduan hutan pinus di pinggiran Situ Gede dan dikelilingi ratusan pohon pinus.

Danau ini terletak di kaki Gunung Galunggung, Gede ini memiliki udara sangat sejuk. Di selatan Situ Gede masih banyak hewan, seperti monyet, angsa, kelinci, dan lain-lain.

Sejauh mata memandang, terdapat banyak danau besar yang dikelilingi perbukitan, dan di bawahnya terdapat banyak kios dan toko kelontong yang menjual oleh-oleh khas Tasikmalaya.

Itulah sejarah danau Situ Gede di Tasikmalaya yang menjadi saksi tragedi pembunuhan terhadap raja.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT