Sejarah Jembatan Cirahong Tasikmalaya, Jawa Barat menyimpan cerita menarik. (Foto: Antara).
Sintia Putri Balqis

TASIKMALAYA, iNews.id – Sejarah Jembatan Cirahong Tasikmalaya menyimpan cerita menarik. Jembatan sangat terkenal karena menjadi jembatan kereta api.

Jembatan Cirahong terletak di Kabupaten Tasikmalaya dan Kabupaten Ciamis. Jembatan ini melintas di atas Sungai Citanduy. Terdapat sejarah menarik di balik jembatan yang menjadi perbatasan dua kabupaten.

Dibangun oleh Perusahaan Hindia Belanda 

Jembatan Cirahong, jembatan double deck atau geladak ganda yang memiliki fungsi dual mode alias 2 in 1 (two in one) satu-satunya di Indonesia. Bila diamati, bagian atas jembatan ini digunakan untuk jalur kereta api. 

Sedangkan jalur di bawahnya digunakan untuk lalu lintas kendaraan roda dua dan empat serta para pejalan kaki. 

Dilansir dari dbmtr.jabarprov.go.id menjelaskan, Jembatan Cirahong dibangun pada 1893 oleh perusahaan kereta api milik Pemerintah Hindia Belanda, Staatsspoorwegen. Jembatan ini memiliki total panjang 202 meter dan berada di ketinggian 66 meter di atas sungai Citanduy. 

Jembatan tersebut merupakan bagian dari pembangunan rel kereta api jalur selatan di Pulau Jawa oleh pemerintah kolonial Belanda. Pada tahun 1934, jembatan ini diperkuat.

Pilar Pertama dan Pelintasan Kereta Api

Pemasangan pilar batu di Jembatan Citanduy dilakukan pada 19 Agustus 1893. Jembatan ini bertumpu pada empat tiang dan jarak antara kedua tiang  batu dan besi, yakni delapan meter. 

Berdasarkan jenisnya, jembatan ini termasuk jembatan dinding, yaitu jembatan dimana muatan tidak dipikulkan langsung pada rasuk-rasuknya, melainkan melalui perantara rasuk melintang kepada rasuk-rasuknya. 

Pada 1956-1958, Djawatan Kereta Api (cikal bakal PT KAI), melakukan perbaikan dan pemeliharaan jembatan di Jawa. Setelahnya, DKA meningkatkan rencana muatan jembatan, termasuk di lintas Cibatu-Banjar. 

Saat ini, Jembatan Cirahong berada di bawah Daerah Operasi II Bandung. Jembatan ini dilewati oleh kereta api jarak jauh yang melayani jurusan Bandung-Yogyakarta-Surabaya, dan Jakarta-Purwokerto melalui Bandung. 

Peran Kanjeng Prabu 

Dalam pembangunan Jembatan Cirahong, banyak sekali pertimbangan-pertimbangan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Kala itu pemerintah kolonial Belanda sedang membangun jalan kereta api jalur selatan yang melintasi Bandung, Garut, Tasikmalaya dan Banjar, lalu menyambung ke Jawa Tengah. 

Dengan membangun jalur kereta api, Belanda berharap bisa mempermudah jalur angkutan barang maupun mobilitas penduduk untuk efektivitas dalam mengontrol kawasan jajahannya. 

Pada awalnya, Jembatan Cirahong tidak direncanakan dibangun. Perencanaan jalur kereta api dari Tasikmalaya ini tidak melewati Ciamis, namun melewati Cimaragas atau sebelah selatan sungai Citanduy. 

Biaya yang sangat mahal menjadikan Belanda harus mempertimbangkan pelintasan kereta api di Kota Ciamis. 

Kanjeng Prabu atau pemilik nama R.A.A Kusumadiningrat, seorang Bupati Galuh Ciamis 1839-1886 mendengar berita tersebut. Namun, sayang saat itu Kanjeng Prabu sudah pensiun dari jabatannya. 

Kanjeng Prabu yang memiliki pengaruh ke pemerintah kolonial, membujuk Belanda agar jalur rel kereta yang dibangun tersebut melintasi Kota Ciamis. Pertimbangan Kanjeng Prabu dalam bujukannya ke Belanda karena jumlah penduduk Kota Ciamis lebih banyak daripada Cimaragas, sehingga kereta api akan lebih bermanfaat untuk masyarakat. 

Setelah banyak perdebatan, akhirnya kolonial menyetujui usulan Kanjeng Prabu. Belanda akhirnya membangun dua jembatan di atas Sungai Citanduy. Jembatan tersebut merupakan Jembatan Cirahong di Manonjaya dan Jembatan Karangpucung di dekat Kota Banjar. 

Terhubung Letusan Gunung Galunggung

Belanda menemukan cara yang efektif dan efisien dalam membangun Jembatan Cirahong. Jembatan ini dibangun oleh Belanda berdasarkan data dasar topografi dan geologi yang dipadukan dengan perencanaan matang. 

Dilansir dari dbmtr.jabarprov.go.id, Jembatan Cirahong secara geologis terkait dengan fenomena meletusnya Gunung Galunggung. Saat Galunggung meletus dahsyat dan melontarkan dinding timur tenggaranya menjadi berkeping-keping batu, bahan ledakannya membendung Sungai Citanduy di Kota Tasikmalaya, sehingga saat ini terbentuk danau. 

Letusan hebat Gunung Galunggung menghasilkan ribuan bukit. Dengan memanfaatkan celah sempit di atas Sungai Citanduy daerah Cirahong, Belanda menjadikannya sebagai tempat untuk membentangkan jembatan kereta api menuju Kota Ciamis. 

Batu di daerah sana juga merupakan batu yang keras, sehingga cocok untuk pondasi jembatan. 


Editor : Kurnia Illahi

BERITA TERKAIT