Kepala BBPOM Bandung Sukriadi Darma (tengah) saat konferensi pers hasil razia produk kosmetik dan obat-obatan ilegal berbahaya. (FOTO: ISTIMEWA)
Agus Warsudi

BANDUNG, iNews.id - Ribuan produk kosmetik dan obat-obatan ilegal, tanpa izin edar, dan mengandung zat berbahaya, disita dari salon dan toko groris di delapan kota-kabupaten se-Jawa Barat. Penyitaan dilakukan oleh petugas Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Bandung.

"Total sebanyak 3.826 item dari 183 jenis produk kosmetik dan obat-obatan berbahaya serta kedaluwarsa, kami tertibkan dari salon dan toko grosir di delapan kabupaten-kota se-Jabar," kata Kepala BBPOM Bandung Sukriadi Darma, Rabu (3/8/2022).

Sukriadi Darma menyatakan, operasi penertiban produk ilegal dan berbahaya digelar Kota/Kabupaten Bandung, Cimahi, Bandung Barat, Kota Bekasi, Karawang, Subang, dan Purwakarta.

"Dari 8 kabupaten kota, produk ilegal terbanyak disita di Kabupaten Karawang. Total kosmetik ilegal yang diamankan di Karawang mencapai 2.178 item. Nilai ekonomi dari penyitaan produk ilegal itu mencapai lebih dari Rp264 juta," ujar Sukriadi Darma. 

Kepala BBPOM Bandung menuturkan, dari tiga kosmetik ilegal, paling banyak ditemukan masa kedaluwarsa berakhir dan tanpa izin edar. Ribuan kosmetik ilegal tersebut diedarkan oleh 20 produsen. "Paling banyak kami temukan produk kosmetik luar tanpa izin edar di Indonesia," tutur Kepala BBPOM Bandung.

Peredaran kosmetik ilegal dan kedaluwarsa di pasaran masih terjadi, kata Sukriadi Darma, sebab permintaan masyarakat masih tinggi. Kondisi tersebut dimanfaatkan banyak produsen untuk meraup keuntungan. 

Padahal, produk kosmetik kedaluwarsa sangat berbahaya terhadap kesehatan pengguna. "Saat ini, penegakan hukum atas dua kasus peredaran kosmetik ilegal dan kedaluwarsa telah memasuki P21 dan dilimpahkan ke aparat penegak hukum," ucap Sukriadi Darma.

BBPOM Bandung, ujar dia, juga menemukan apotek yang menjual dan memproduksi kosmetik ilegal. "Kalau kedaluwarsa, kita tahu kosmetik mengandung senyawa kimia. Dkhawatirkan memberikan dampak buruk kepada pengguna," ujar Kepala BBPOM Bandung.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT