Kapolres Garut AKBP Rio Wahyu Anggoro (kiri) menunjukkan barang bukti psikotropika dan obat keras yang disita dari tersangka RSR dan URP. (FOTO: FANI FERDIANSYAH)
fani ferdiansyah

GARUT, iNews.id - Peredaran puluhan ribu butir psikotropika dan obat keras bernilai ratusan juta rupiah berhasil digagalkan aparat Polres Garut. Dalam kasus itu, polisi menangkap dua pemuda yang berperan sebagai pengedar. 

Kedua orang yang diamankan dalam kasus ini adalah RSR (19), warga Kabupaten Bandung, dan URP (24), warga Kabupaten Bandung Barat. Dari tangan mereka, polisi menyita berbagai psikotropika dan obat keras dengan jumlah total mencapai 39.000 butir tablet. 

Menariknya, kedua tersangka mendapatkan puluhan ribua butir psikotropika dan obat keras tersebut dari membobol salah satu apotek di kawasan Cinambo, Kota Bandung. Rencananya, seluruh barang curian itu akan diedarkan di Garut. 

Kapolres Garut AKBP Rio Wahyu Anggoro mengatakan, tersangka RSR dan URP dtangkap saat mengalami kecelakaan tunggal dalam perjalanan dari Bandung ke Garut beberapa waktu lalu. 

Tepatnya di Jalan Raya Bandung-Garut kawasan Kampung Warung Peuteuy, Desa Sukaraja, Kecamatan Banyuresmi. Saat itu kedua tersangka menumpang angkutan umum milik teman.

"Kasus psikotropika dan obat keras ini bermula dari dua laporan polisi. Pertama, mengenai pencurian terhadap salah satu apotek di Bandung. Kedua, terkait peredarannya di wilayah Garut," kata Kapolres Garut dalam konferensi pers di Mapolres Garut, Kamis (12/1/2023). 

AKBP Rio Wahyu Anggoro menyatakan, kasus peredaran puluhan ribu butir psikotropika dan obat keras diproses di Polres Garut. Sementara terkait pencurian, akan diproses oleh aparat di Bandung. "Rencananya psikotropika ini akan dijual di Garut dengan sasaran anak muda," ujar dia. 

Kapolres Garut menuturkan, psikotropika dan obat keras tersebut dijual paling murah Rp25.000. Total nilai barang bukti yang diamankan dari kedua tersangka berkisar antara Rp800 juta hingga Rp1 miliar. 

"Puluhan ribu tablet psikotropika dan obat keras yang disita terdiri atas berbagai jenis seperti alprazolam, tramadol, diazepam, dan lainnya," tutur Kapolres Garut. 

Selain mengungkap predaran psikotropika dan obat keras, jajaran Polres Garut juga mengungkap kasus peredaran jamu yang mengandung bahan kimia obat. 

Peredaran jamu berbahan kimia obat tersebut dilakukan oleh tersangka SM (31), warga Kecamatan Samarang. Dia diamankan karena toko miliknya di kawasan Jalan Merdeka Garut tak memiliki izin edar dari BPOM. 

"Untuk yang jamu, kami melakukan penyelidikan cukup lama guna memastikan. Setelah diperiksa, ternyata jamu yang dijual mengandung bahan kimia obat cukup berbahaya dan tak memiliki izin edar dari BPOM," ucap AKBP RIo Wahyu Anggoro. 

Menurut Kapolres Garut, mengonsumsi jamu berbahan kimia obat ini sangat berbahaya dan berisiko kematian. Berdasarkan keterangan SM, ia telah berjualan jamu berbahan kimia obat ini selama 2 tahun. "Perbulan tersangka SM meraup keuntungan mulai dari Rp3 juta hingga puluhan juta rupiah," ujar dia.

Dari tangan SM, polisi menyita ratusan botol jamu cair berbagai merk, ratusan bungkus jamu serbuk berbagai merk, hingga ribuan butir jamu tablet. 

Polisi saat ini masih menelusuri peran SM yang lain, yakni menjadi pemasok jamu-jamu berbahan kimia obat ke sejumlah toko jamu lainnya di Garut. 

"Kami masih melakukan pendalaman dan penyelidikan terkait indikasi peredaran jamu berbahan kimia obat ini," tutur AKBP Rio Wahyu Anggoro. 

Akibat para tersangka RSR dan URP dijerat pasal berbeda sesuai dengan pelanggaran hukum yang dilakukan. Dua tersangka peredaran psikotropika dan OKT akan dijerat dengan UU Narkotika dan Psikotropika Nomor 35 Tahun 2009 Juncto pasal 83 UU No 5 tahun Tahun 1997.

"Sementara untuk tersangka peredaran jamu, dijerat dengan UU Kesehatan No 36 Tahun 2009. Ancaman hukuman semua tersangka sama, antara 15 hingga 20 tahun penjara," ucap Kapolres Garut.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT