get app
inews
Aa Text
Read Next : Geledah 3 Lokasi Kasus Edhy Prabowo, KPK Sita Dokumen Transaksi Keuangan

Tokoh Jawa Barat Ini Dianggap Pantas Gantikan Edhy Prabowo Pimpin KKP

Rabu, 02 Desember 2020 - 19:15:00 WIB
Tokoh Jawa Barat Ini Dianggap Pantas Gantikan Edhy Prabowo Pimpin KKP
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi. (Foto: Istimewa)

BANDUNG, iNews.id - Nama Dedi Mulyadi, mantan Bupati Purwakarta dua periode yang saat ini menjabat Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, disebut-sebut pantas menggantikan Edhy Prabowo untuk memimpin Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Dedi dianggap memiliki kualifikasi yang dibutuhkan KKP.

Director Centre for Political Analysis Strategic Indonesia Nana Rukmana mengatakan, mengelola laut di Indonesia dengan luas mencapai dua pertiga daratan bukanlah perkara mudah. Mengurus dunia kelautan, bukan semata-mata lobster atau benihnya.

Lebih dari itu, kata Nana, selain sebagai sumber untuk membangun kekuatan ekonomi nasional, laut juga bisa menjadi sumber ketahanan energi sekaligus ketahanan pangan nasional.

"Secara geopoilitik, laut pun modal strategis dalam membangunan kekuatan pertahanan nasional dan memperkuat posisi Indonesia dalam diplomasi Internasional," kata Nana di Kota Bandung, Selasa (1/12/2020).

Demi mengelola berbagai potensi strategis itu, ujar dia, diperlukan sosok tepat, yang mampu membuat berbagai terobosan untuk mempercepat terbentuknya sistem pengelolan kelautan Nasional. Sehingga semua potensi strategis laut bisa dimanfaatkan.

Nana mengemukakan, terungkapnya kasus korupsi KKP disusul penangkapan Edhy Prabowo dan sejumlah pihakoleh KPK, semakin membuktikan, KKP membutuhkan figur kuat dan tepat dalam pengelolan sistem kelautan Nasional.

Menurut dia, yang sangat meengecewakan dan memalukan adalah baru sebatas urusan benih lobster saja sudah membutakan orang untuk korupsi mengeruk keuntungan pribadi.

"Padahal potensi laut Indonesia sangat berlimpah dan luar biasa. Artinya kalau bukan figur menteri yang punya integritas, semua potensi laut kita akan sia-sia. Bisa dirampok siapa saja,” ujar Nana.

Disinggung siapa figur tepat untuk menjadi Menteri KKP menggantikan Edhy Prabowo yang mengundurkan diri pascaditangkap KPK, Nana mengemukakan, diperlukan figur yang punya kecakapan multidimensi, mampu menangani dengan tepat berbagai potensi kelautan nasional.

“Urusan laut itu memiliki bebagai dimensi. Tidak hanya ekonomi, tapi juga perlu pendekatan dimensi lain, seperti budaya, sosial, politik dan ketahanan nasional. Selain itu, kesejarahan juga penting untuk diperhatikan,” ujar dia.

Saat disebutkan nama Wakil Ketua Komisi IV DPR RI Dedi Mulyadi, Nana menuturkan, sangat tepat dan layak untuk dipertimbangkan menjadi Menteri KKP. Dedi Mulyadi dinilai memiliki semua kualifikasi yang diperlukan untuk menjadi Menteri KKP.

Selain memiliki dukungan politik kuat, sangat menguasai aspek ekonomi, mengerti budaya, memahami kesejarahan, dan memiliki terobosan-terobosan luar biasa.

Dedi saat ini merupakan salah satu Ketua DPP Partai Golkar setelah sebelumnya menjadi Ketua DPD Golkar Jawa Barat. "Dedi Mulyadi memiliki pengetahuan tentang alam baik daratan maupun lautan yang jarang dimiliki khayalak umum. Pengetahuan tersebut tentu berhubungan dengan sejarah panjang kelautan di Indonesia," tutur Nana.

Di antaranya adalah pengembangan ekonomi kelautan yang hingga sekarang belum optimal. Termasuk di dalamnya juga mengenai pasar ikan domestik dan internasonal yang bisa dioptimalkan untuk menopang kehidupan masyarakat.

"Laut Indonesia penuh dengan sumber daya alam menjanjikan. Selain lobster kualitas terbaik, Indonesia pun memiliki sumber ikan kelas dunia lain, yaitu tuna. Bahkan jika memiliki akses baik, tuna kita bisa diekspor ke Jepang dengan harga ratusan juta rupiah, mungkin miliaran," katanya.

Secara umum kata Nana, dari segi pertahanan dan keamanan pun Dedi Mulyadi memiliki keunggulan. Hal ini di antaranya adalah kemampuanya menjalin hubungan strategis dengan sejumlah tokoh penting perwira tinggi TNI dan Polri.

Keunggulan lain adalah Dedi mampu mengoptimalkan kakuatan birokrasi hingga bisa bekerja secara efektif. "Pengalamannya memimpin birokrasi sudah amat teruji. Selama 15 tahun, Dedi pernah menjadi Wakil Bupati dan Bupati Purwakarta duu periode. Jadi birokrasi ribet kementrian bisa dipangkas sedemikian rupa sehingga ?akses masyarakat ke kementrian bisa dipermudah," ujarnya.

Termasuk juga penyerapan anggaran. Seperti diketahui penyerapan anggaran yang baik justru akan menghindarkan dari tindakan korupsi. "Sewaktu di Purwakarta penyerapan anggaran atas bimbingan Dedi Mulyadi selalu di atas 90 persen," kata Nana.

Sosok Berkeringat dan Bisa Diterima Gerindra
Dedi juga merupakan tokoh nasional putera Jawa Barat yang sangat diterima oleh banyak kalangan dari berbagai latar belakang secara Nasional. Dedi juga sangat menguasai visi misi Presiden Joko Widodo.

Sebab, selain dikenal memiliki hubungan dekat, Dedi juga merupakan Ketua Tim Pemenangan Nasional Jawa Barat untuk pasangan Jokowi-Ma’ruf Amin pada Pemilu 2019 silam.

“Banyak yang tidak mengetahui Dedi punya hubungan dekat dengan Jokowi sejak lama. Itu bisa menjelaskan jika Dedi sangat bisa memahami dan menerjemahkan visi-misi Presiden Jokowi. Dedi juga salah satu Ketua TPN saat pilpres lalu. Artinya kalau ada istilah sosok yang berkeringat, Dedi merupakan salah satu yang paling berkeringat memenangakan Jokowi-Ma’ruf,” kata Nana.

Dedi pun sebenarnya lanjut Nana punya kedekatan khusus ke Wakil Presiden RI KH Ma'ruf Amin. Selain dikenal sebagai salah satu santri kebanggaan, Dedi juga selalu diajak khusus oleh KH Ma’ruf Amin saat mengunjungi makam Baing Yusuf Purwakarta yang merupakan guru dari leluhur Ma'ruf, Syaikh Nawawi Al Bantani.

Menurut Nana, kemenangan Jokowi-Ma'ruf di Indonesia tidak lepas dari peran Dedi Mulyadi. "Jawa Barat yang tadinya diduga 70-80 persen milik Prabowo-Sandi, ternyata di luar dugaan. Prabowo Sandi hanya meraih suara 55 persen," ujarnya.

Suara di Jabar, tutur Nana, sangat berpengaruh bagi kemenangan Jokowi-Ma'ruf secara Nasional. Jawa Barat adalah provinsi dengan jumlah penduduk terbanyak di Indonesia. "Jika di Jabar, Jokowi-Ma'ruf kalah telak, Prabowo-Sandi lah yang menang. Kebetulan saat itu Dedi adalah Ketua Tim Pemenangannya," tutur Nana.

Meski posisi Menteri KKP secara politik disebut sebagai “jatah” Partai Gerindra, Nana sangat meyakini kalau Dedi Mulyadi bisa diterima dengan baik oleh partai tersebut lantaran Dedi memang dikenal memiliki hubungan istimewa dengan Prabowo Subianto dan Hashim Djojohadikusumo.

“Kedekatan mereka itu sudah terjalin sejak lama. Tidak sulit bagi Dedi Mulyadi, untuk berkoordinasi dengan Partai Gerindra?. Apalagi kini Partai Gerindra juga sudah bergabung dengan pemerintah," kata Nana.

Editor: Agus Warsudi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut