Sejarah Perlawanan Rakyat Singaparna Jawa Barat Melawan Jepang, Aksi Heroik Sang Kiai

Asep Supiandi ยท Selasa, 04 Oktober 2022 - 11:37:00 WIB
Sejarah Perlawanan Rakyat Singaparna Jawa Barat Melawan Jepang, Aksi Heroik Sang Kiai
Sejarah perlawanan rakyat Singaparna Jawa Barat. (Foto: Istimewa)

TASIKMALAYA, iNews.id - Sejarah perlawanan rakyat Singaparna Jawa Barat melawan Jepang tak terlepas dari aksi heroik yang terjadi di sebuah pesantren di Sukamanah, Tasikmalaya pada tahun 1944. Perlawanan tersebut dipimpin oleh tokoh kharismatik KH Zaenal Mustofa.

Dirangkum dari berbagai sumber, sejarah perlawanan rakyat Singaparna Jawa Barat ini dilatarbelakangi penolakan ajaran seikerei, yakni penghormatan kepada Kaisar Jepang dengan membungkuk ke arah timur pada pagi hari, yang tak sesuai ajaran agama Islam. Termasuk juga sikap antipenjajah yang sudah tertanam dalam diri KH Zaenal Mustofa.

Dalam salah satu sumber (id.wikipedia.org) disebutkan, KH Zaenal Mustofa merencanakan perlawanan terhadap Jepang pada tanggal 25 Februari 1944 (1 Maulud 1363 H). Mula-mula dia akan menculik para pembesar Jepang di Tasikmalaya, kemudian melakukan sabotase, memutuskan kawat telepon sehingga militer Jepang tidak dapat berkomunikasi.

Begitu pula upaya pembebasan tokoh-tokoh yang menjadi tahanan politik. Untuk melaksanakan rencana ini, KH Zaenal Mustofa meminta para santrinya mempersiapkan persenjataan berupa bambu runcing dan golok yang terbuat dari bambu, serta berlatih pencak silat. Kiai juga memberikan latihan spiritual (tarekat) seperti mengurangi makan, tidur dan berdoa mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Ternyata perkiraan KH Zainal Mustofa bahwa tindakannya akan tercium oleh Jepang tidak meleset. Terbukti Jepang mengirim utusan untuk menangkap kyai ini pada 24 Februari 1944. Mereka segera mengirim Camat Singaparna disertai 11 staf dan dikawal oleh beberapa anggota polisi untuk melakukan penangkapan. 

Namun usaha ini tidak berhasil. Mereka malah ditahan di rumah KH Zaenal Mustofa. Keesokan harinya, pukul 8 pagi tanggal 25 Februari 1944, mereka dilepaskan dan hanya senjatanya yang dirampas.

Tiba-tiba, sekitar pukul 13.00, datang empat orang opsir Jepang meminta agar KH Zaenal Mustofa menghadap pemerintah Jepang di Tasikmalaya. Perintah tersebut ditolak tegas sehingga terjadilah keributan. Hasilnya, tiga opsir itu tewas dan satu orang dibiarkan hidup. 

Yang satu orang ini kemudian disuruh pulang dengan membawa ultimatum. Dalam ultimatum itu, pemerintah Jepang dituntut untuk memerdekakan Pulau Jawa terhitung mulai 25 Februari 1944. Dalam insiden itu, tercatat pula salah seorang santri bernama Nur menjadi korban, karena terkena tembakan salah seorang opsir. 

Setelah kejadian tersebut, menjelang waktu salat Ashar datang beberapa truk mendekati garis depan pertahanan Sukamanah. Suara takbir mulai terdengar, pasukan Sukamanah sangat terkejut setelah tampak dengan jelas bahwa yang berhadapan dengan mereka adalah bangsa sendiri. 

Editor : Asep Supiandi

Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel: