Jejak Sejarah Perjuangan Bangsa Bertebaran di Cimahi, Kenangan bagi Generasi Penerus

Adi Haryanto ยท Selasa, 10 November 2020 - 17:44:00 WIB
Jejak Sejarah Perjuangan Bangsa Bertebaran di Cimahi, Kenangan bagi Generasi Penerus
Pusat Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Militer Cimahi salah satu jejak sejarah pendudukan Belanda di Indonesia. Foto/Cimahi Heritage

Sebut saja, pertempuran alun-alun, Tagog, Cimindi, Baros, Babakan Kandanguncal, Babakan Santri (Gunung Bohong), dan sejumlah pertempuran lain.

Pertempuran dengan durasi paling lama, ujar Machmud, terjadi di kawasan Penjara Militer Poncol, Jalan Gatot Subroto. Pertempuran itu melibatkan kompi, laskar, Badan Keamanan Rakyat (BKR), dan Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

"Perangnya berlangsung empat hari empat malam. Dikarenakan persenjataan laskar, BKR, TKR, dan kompi, terbatas, akhirnya belum bisa mengalahkan Belanda," ujar pria yang berprofesi jurnalis ini.

Para pejuang yang terlibat dalam sejumlah pertempuran di Cimahi di antaranya Daeng M Ardiwinata, Sukimun, Embang Artawidjaya, Kapten Ishak, hingga Ade Arifin.

Mereka menyerang beberapa tangsi hingga Artilerie Constructie Winkel (ACW) atau pabrik senjata yang saat ini bangunannya menjadi Polres Cimahi. Sebagai bentuk penghargaan, nama-nama mereka saat ini ada yang diabadikan sebagai nama jalan.

"Mapolres Cimahi itu dulunya pabrik senjata. Di situ terjadi pertempuran Tagog yang melibatkan Kompi Abdul Hamid, Banteng Rakyat, dan laskar lain. Pejuang kita mengungsi ke daerah selatan karena pusat wilayah Cimahi sudah dikuasai Belanda," tutur Machmud.

Para pegiata Cimahi Heritage foto bersama di gerbang Pusidk Pengadilan Militer dan Umum (Pengmilum). Foto/Cimahi Heritage
Para pegiat Cimahi Heritage foto bersama di gerbang Pusidk Pengadilan Militer dan Umum (Pengmilum). Foto/Cimahi Heritage

Sebagai pegiat sejarah dirinya ingin agar catatan dan bukti-bukti perjuangan di Kota Cimahi bisa diketahui oleh generasi muda. Bahkan alangkah lebih baik jika itu semua bisa masuk ke dalam kurikulum pendidikan mengenai sejarah lokal.

"Bisa diajarkan di sekolah-sekolah agar sejarah lokal yang dekat dengan kehidupan kita sehari-hari tidak terlupakan," kata dia.

Editor : Agus Warsudi

Bagikan Artikel: