Hilal Tak Terlihat di Bandung dan Seluruh Wilayah Jabar, Awal Ramadan Tunggu Sidang Isbat
Rangkaian pemantauan hilal Ramadan 1447 H dilakukan melalui tahapan teknis yang ketat. Tim mengatur dan menyeimbangkan teropong beserta perangkat pendukung seperti kamera CCD dan filter Matahari.
Kalibrasi dilakukan sejak pukul 13.30 WIB dengan membidik Matahari secara aman guna memastikan akurasi alat serta menjaga keselamatan pengamat.
Sekitar 30 menit sebelum waktu pengamatan, teropong diarahkan ke posisi Bulan. Kamera CCD digunakan untuk menampilkan hasil pengamatan ke layar televisi sehingga peserta dapat menyaksikan secara langsung.
Pengamatan di Jabar juga dilakukan di beberapa lokasi lain seperti Bandung, Pangandaran, Subang, dan Sukabumi. Seluruh titik menunjukkan hasil yang sama, yakni hilal tidak terlihat.
Hasil pemantauan hilal Ramadan 1447 H dari Observatorium Al-Biruni dan berbagai titik di Indonesia akan dilaporkan kepada Kemenag sebagai bahan sidang isbat.
Ali menyebutkan apabila hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban akan disempurnakan menjadi 30 hari sehingga awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis.
“Kepastiannya kita menunggu hasil sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama,” katanya.
Melalui kegiatan pemantauan hilal Ramadan 1447 H ini, Unisba berharap tradisi rukyat tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga sarana edukasi ilmiah yang mengintegrasikan ilmu falak, astronomi, dan syariat Islam bagi masyarakat luas.
Editor: Donald Karouw