Hilal Tak Terlihat di Bandung dan Seluruh Wilayah Jabar, Awal Ramadan Tunggu Sidang Isbat
BANDUNG, iNews.id - Pemantauan hilal Ramadan 1447 H yang digelar Fakultas Syariah Islam Universitas Islam Bandung (Unisba) bersama Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Barat menyatakan hilal tidak terlihat. Hasil ini menjadi bahan pertimbangan dalam sidang isbat penetapan awal Ramadan 1447 Hijriah.
Kegiatan rukyat hilal berlangsung di Observatorium Al-Biruni Fakultas Syariah Unisba, yang berada di rooftop Gedung Fakultas Kedokteran Unisba lantai 10, Selasa (17/2/2026). Observatorium tersebut merupakan salah satu titik resmi pengamatan hilal yang terdaftar di Kementerian Agama Republik Indonesia.
Kegiatan ini melibatkan Badan Hisab Rukyat Daerah (BHRD) Jawa Barat, BMKG Bandung, serta sejumlah organisasi masyarakat Islam.
Kepala Observatorium Al-Biruni, Encep Abdul Rojak menjelaskan, secara astronomis ijtimak atau konjungsi geosentris terjadi pada Selasa (17/2/2026) pukul 19.01 WIB. Ijtimak merupakan kondisi ketika bumi, bulan dan matahari berada dalam satu garis lurus secara astronomis.
Pengamatan dimulai saat matahari terbenam pada pukul 18.17 WIB. Namun berdasarkan perhitungan, Bulan telah lebih dahulu terbenam pada pukul 18.13 WIB.
Saat matahari terbenam, posisi Bulan berada pada azimuth 256°45’26”, sedangkan Matahari pada azimuth 257°47’07” dengan elongasi sebesar +1°19’05”. Kondisi tersebut membuat peluang terlihatnya hilal sangat kecil.
Kepala Bagian Tata Usaha Kanwil Kemenag Jabar Ali Abdul Latif, menegaskan hasil pemantauan hilal Ramadan 1447 H menunjukkan hilal tidak terlihat.
“Pada sore hari ini kami memastikan hilal tidak terlihat. Posisi hilal berada antara minus 2 derajat hingga sekitar 0 derajat,” ujarnya dikutip dari iNews Bandung Raya, Selasa (17/2/2026).
Dia menambahkan kondisi serupa terjadi hampir di seluruh wilayah Indonesia.
“Di seluruh Indonesia, posisi hilal saat matahari terbenam berada antara minus 2 derajat sampai 0 derajat. Untuk dapat terlihat, biasanya hilal berada di atas 3 derajat,” ucapnya.
Rangkaian pemantauan hilal Ramadan 1447 H dilakukan melalui tahapan teknis yang ketat. Tim mengatur dan menyeimbangkan teropong beserta perangkat pendukung seperti kamera CCD dan filter Matahari.
Kalibrasi dilakukan sejak pukul 13.30 WIB dengan membidik Matahari secara aman guna memastikan akurasi alat serta menjaga keselamatan pengamat.
Sekitar 30 menit sebelum waktu pengamatan, teropong diarahkan ke posisi Bulan. Kamera CCD digunakan untuk menampilkan hasil pengamatan ke layar televisi sehingga peserta dapat menyaksikan secara langsung.
Pengamatan di Jabar juga dilakukan di beberapa lokasi lain seperti Bandung, Pangandaran, Subang, dan Sukabumi. Seluruh titik menunjukkan hasil yang sama, yakni hilal tidak terlihat.
Hasil pemantauan hilal Ramadan 1447 H dari Observatorium Al-Biruni dan berbagai titik di Indonesia akan dilaporkan kepada Kemenag sebagai bahan sidang isbat.
Ali menyebutkan apabila hilal tidak terlihat, maka bulan Syaban akan disempurnakan menjadi 30 hari sehingga awal Ramadan diperkirakan jatuh pada Kamis.
“Kepastiannya kita menunggu hasil sidang isbat yang dipimpin Menteri Agama,” katanya.
Melalui kegiatan pemantauan hilal Ramadan 1447 H ini, Unisba berharap tradisi rukyat tidak hanya menjadi bagian dari ritual keagamaan, tetapi juga sarana edukasi ilmiah yang mengintegrasikan ilmu falak, astronomi, dan syariat Islam bagi masyarakat luas.
Editor: Donald Karouw