9 Masjid di Bandung, Jejak Syiar Islam di Dataran Tinggi Priangan
Walaupun telah mengalami beberapa kali perombakan, Masjid Besar Cipaganti berkapasitas 2.000 jamaah ini masih mempertahankan keasliannya. Selain bentuk bangunan, beberapa ornamen masjid juga masih dipertahankan. Seperti teras, pintu, jendela, gerbang, sebagian lampu, empat tiang penyangga masjid dari kayu jati, sejumlah kaligrafi, dinding bagian dalam, dan fondasi.
Karena nilai sejarah dan keindahannya, Masjid Besar Cipaganti kerap dikunjungi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sebagian besar wisatawan mancanegara yang datang dari Belanda. Bahkan pernah keluarga CP Wolf Schoemaker berkunjung ke masjid ini.

Masjid Mungsolkanas di Jalan Cihampelas, Kelurahan Cipaganti, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Meski telah berusia 154 tahun, Masjid Mungsolkanas masih kokoh berdiri, digunakan untuk ibadah salat dan kegiatan keagamaan lainnya.
Kini, Masjid Mungsolkanas yang berada di tengah kawasan padat penduduk, diapit permukiman, gedung-gedung apartemen, dan lainnya. Meski begitu, suasana masjid terasa sejuk walaupun saat tengah hari. Air yang keluar dari keran tempat wudu pun dingin, seperti air dari dalam kulkas.
Masjid Mungsolkanas didirikan oleh KH Abdurrohim atau Mama Aden pada 1869. Semula, bangunan masjid hanya berupa pondok tempat Mama Aden mengajarkan mengaji Alquran dan agama Islam kepada murid-muridnya.
Mama Aden menggembleng murid-muridnya menjadi dai untuk menyebarluaskan agama Islam di Tatar Priangan. Para santri yang telah tamat menimba ilmu agama di bawah bimbingan KH Abdurrohim, kemudian bermukim dan mensyiarkan Islam di tempat baru.
Kini, Masjid Mungsolkanas bisa menampung 800 jamaah. Selain masjid, KH Abdurrohim mewariskan Alquran tulisan tangan yang berumur 147 tahun.
Dulu bentuk bangunannya tidak seperti ini, tapi kobong atau tempat tinggal santri. Saat itu digunakan untuk belajar mengaji. Ketika Mama Abdurohim membangun masjid ini, metode pengajaran yang digunakan adalah metode pesantren.
Nama masjid ini memang terdengar asing dan unik di telinga masyarakat. Tidak seperti tempat ibadah umat Islam umumnya yang menggunakan nama-nama khas Arab atau Asmaulhusna, masjid ini justru menggunakan bahasa Sunda.
Menurut Dedy Priyatna, penggunaan bahasa Sunda sebagai nama masjid karena berdiri pada zaman kolonial Belanda. Pendek kata nama Mungsolkanas dipakai untuk menghindari resistensi dari penjajah kala itu.
"Mungsolkanas ini singkatan atau kirata dari Mangga Urang Ngaos Sholawat ka Kanjeng Nabi Muhammad Salallohu Allaihi Wassalam (Ayo kita membacakan selawat untuk Nabi Muhammad Salalahu Alaihi Wassalam)," ujar Dedy.

Masjid Raya Al Ukhuwah berada di Jalan Wastukancana, Kota Bandung, persis berseberangan dengan Balai Kota Bandung. Masjid ini memiliki sejarah unik di Kota Bandung. Tempat ibadah umat Islam ini dibangun sekitar 1996-1998 pada era Wali Kota Bandung Wahyu Hamidjaja.
Dulu, sebelum Masjid Al Ukhuwah berdiri di atas lahan seluas 1.373 meter persegi, di lokasi itu pernah berdiri sebuah bangunan Loge Sint Jan, perkumpulan Freemason. Kala itu, masyarakat menyebutkan sebagai rumah setan.
Keberadaan gedung Loge Sint Jan bertahan selama 60 tahun. Sebab, pada 1960-an, "rumah setan" itu dibongkar. Tidak ada keterangan jelas mengapa gedung Loge Sint Jan itu dibongkar. Namun jika merunut pada keterangan yang ada pada Wikipedia, pembongkaran gedung itu kemungkinan seiring pelarangan Loge Agung Indonesia dan organisasi lain atas alasan mengikuti ajaran Freemason.
Setelah Loge Sint Jan rata tanah, berdiri bangunan baru gedung Graha Pancasila. Berbeda dengan era Loge Sint Jan yang terkesan angker, gedung Graha Pancasila selalu ramai dengan berbagai macam aktivitas. Gedung Graha Pancasila menjadi tempat untuk berbagai amcam kegiatan, ada pertemuan, pertunjukan, dan lain-lain. Namun Graha Pancasila dibongkar untuk kemudian dibangun Masjid Al Ukhuwwah.

Institut Teknologi Bandung (ITB), perguruan tinggi yang banyak melahirkan arsitektur andal ini juga memiliki masjid besar. Masjid Salman ITB namanya, berdiri sejak 1972 dan banyak dikunjungi masyarakat dari berbagai kalangan.
Nama Salman untuk masjid itu, merujuk kepada tokoh perang Khandaq, yaitu, Salman Al-Farisi. Nama tersebut diberikan oleh Presiden Soekarno. Tepat pada 5 Mei 1972, Masjid Salman ITB untuk pertama kalinya dapat dipakai untuk salat Jumat.
Saat ini, Masjid Salman ITB dilengkapi berbagai fasilitas. Salah satu yang paling populer adalah, air minum gratis berupa water tap di depan tempat penitipan sepatu dan wudu putri. Air minum itu tersedia selama 24 jam nonstop.

DI Kota Bandung terdapat masjid bernuansa oriental dan arsitektur bercorak khas Negeri Tirai Bambu, yaitu, Masjid Lautze 2 di Jalan Tamblong No 27. Masjid Lautze 2 didirikan pada Januari 1997 dan merupakan masjid tertua yang dibangun muslim Tionghoa di Kota Bandung.
Uniknya, masjid ini dulunya sebuah bangunan toko berukuran 7 x 6 meter. Yang membedakan hanya gambar kubah layaknya masjid dengan tembok yang hampir seluruhnya berwarna merah dan kuning keemas.
Masjid ini sempat mengalami renovasi oleh arsitek Institut Teknologi Bandung. Hasilnya menarik, warna merah mendominasi interior dan eksterior masjid dipadukan dengan beberapa ornamen, seperti lampu, tangga, dan partisi berukir ala ornamen-ornamen China.
Masjid ini didirikan seorang muslim keturunan Tionghoa, H Ali Karim sebagai ketua Yayasan Haji Karim Oei (YHKO) sebagai pengelola Masjid Lautze. Haji Karim Oei Tjeng Hien merupakan tokoh Islam keturunan Tionghoa.
H Karim Oei lahir pada 5 Juni 1905 dan menjadi mualaf pada 1926. Karim Oei ikut menyiarkan Islam bersama Buya Hamka, Soekarno, Bung Hatta, Syarifuddin Prawiranegara, dan sejumlah tokoh lainnya.
Sebagai bentuk penghormatan, nama Haji Karim Oei pun dijadikan nama yayasan yang didirikan oleh anaknya sendiri, Ali Karim. Penamaan Masjid Lautze diambil dari nama jalan di Jakarta tempat kantor pusat YHKO, yakni Jalan Lautze 87-89 Pasar Baru, Jakarta Pusat.
Jadi pendiriannya awalnya di Jakarta, karena itu Masjid Lautze di Bandung diberi nomor 2 untuk membedakan dengan masjid Lautze di Jakarta. Masjid Lautze juga sebagai pusat informasi Islam untuk para warga Tionghoa, baik yang Muslim maupun yang sedang mendalami Islam dan hendak menjadi mualaf.
Walaupun berukuran kecil, tapi aktivitas Masjid Lautze 2 tidak kalah dengan masjid lainnya di Bandung. Meski berskala kecil, kegiatan yang dilaksanakan bukan hanya diperuntukkan bagi muslim Tionghoa, tapi juga untuk umum.

Selain Masjid Lautze 2, di Kota Bandung juga ada Masjid Al Imtizaj bernuansa oriental. Masjid Al Imtizaj Bandung berada di Jalan Banceuy No 8, dulu lebih dikenal dengan nama Rumah Matahari yang sekarang diganti namanya menjadi Gedung Abdurrahman Bin Auf Trade Center (ATECE).
Al Imtizaj adalah masjid berarsitek China. Dari kejauhan sudah terlihat nuansa merah dan kuning keemas an menyala dari bangunan masjid. Dengan ciri khas arsitektur Tionghoa, bangunan masjid sangat menarik perhatian setiap orang yang melintas Jalan Banceuy.
Kesejukan sangat terasa setelah berada di dalam masjid, karena bangunan lebih didominasi oleh bahan kayu. Dua tiang besar berwarna merah, menambah kesan kekokohan bangunan China di zaman dulu. Pembangunan masjid ini berawal dari keinginan mantan Gubernur Jawa Barat HR Nuriana dan dibuka untuk umum pada 6 Agustus 2010.
Masjid Al Imtizaj dibangun dimaksudkan untuk memperkaya seni masjid dengan budaya Tiongkok dan meningkatkan khasanah pembauran etnis Tionghoa Islam dengan umat Islam lainnya.
Tim arsitek pembangunan masjid dikomandani oleh Ir Danny Swardhani MBA, yang dikenal sebagai arsitek yang banyak membangun masjid, termasuk Masjid Atta’awun Puncak, Bogor. Masjid Al Imtizaj memiliki arti pembauran atau dalam bahasa Tionghoa, Ronghe.
Editor: Agus Warsudi