Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Ibrahim Tompo. (Foto: MPI)
Agus Warsudi

BANDUNG, iNews.id - Sindikat begal uang di rekening bank dengan modus operator bank BRI terbongkar. Dari kasus ini, Polda Jabar dan Polres Cimahi menangkap tiga pelaku asal Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan.

Ketiga pelaku antara lain, Dwiki Mahendra  (21), Ripes (29), dan Aldu ((23). Mereka merupakan warga Dusun II Desa Ujung Tanjung, Kecamatan Tulung Salapan, Kabupaten Ogan Komering Ilir (OKI), Sumsel. 

Dalam beraksi, ketiga pelaku memiliki peran berbeda. Tersangka Dwiki Mahendra berpan sebagai operator yang mengecoh korban. Tersangka Ripes, berperan sebagai operator dan pemilik rekening penampung. Sedangkan tersangka Aldu berperan sebagai pengirim dokumen elektronik brosur pengumuman perubahan tarif.

Saat ini, polisi masih memburu lima pelaku lain yang masih buron atau masuk daftar pencarian orang (DPO). Lima DPO itu juga merupakan warga Dusun II, Desa Ujung Tanjung, Kecamatan Tulung Salapan, Kabupaten OKI, Sumsel.

Kelima buronan antara lain, Revan, berperan sebagai pembuat link form isian palsu, Anjeli operator dan pemilik rekening penampung, Sando operator, Dio operator, dan Kelvin, operator.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Ibrahim Tompo mengatakan, para pelaku tersebut telah menipu enam nasabah Bank BRI dengan total kerugian Rp807.300.000. 

"Modus yang dilakukan para pelaku  dengan membuat dokumen elektronik berupa brosur pengumuman dari Bank BRI, perihal perubahan tarif biaya transaksi dalam layanan BRI mobile atau internet banking perihal perubahan tarif biaya transaksi dalam layanan BRI mobile atau internet banking," kata Kabid Humas Polda Jabar saat ekspos kasus di Mapolda Jabar.

Para pelaku, ujar Kombes Pol Ibrahim Tompo, mengirimkan link ke WhatsApp nasabah dan mengarahkan agar korban tersebut segera melakukan konfirmasi dengan membuka dan mengisi form dari link yang dikirim pelaku.

Korban diminta mengisi username atau nama pengguna dan password atau kata sandi mobile banking serta kode OTP yang masuk melalui pesan singkat. "Setelah mendapatkan data dari form link tersebut, pelaku menguasai akun mobile banking korban. Kemudian pelaku menguras uang di rekening korban," ujar Kombes Pol Ibrahim Tompo. 

Kasus ini terbongkat, tutur Kabid Humas Polda Jabar, setelah satu dari enam nasabah BRI yang menjadi korban merasa curiga. Korban bernama Darmawan asal Maribaya, Lembang, Kabupaten Bandung Barat curiga dengan pesan WA yang diterimanya. 

"Setelah mengisi link tersebut, dia (korban) baru sadar itu penipuan. Kemudian korban cepat-cepat menghubungi Bank BRI dan menanyakan biaya transaksi yang baru tersebut dan dijelaskan oleh pihak Bank BRI bahwa tidak ada layanan tersebut," tutur Kabid Humas Polda Jabar. 

Korban Darmawan, kata Kombes Pol Ibrahim Tompo, mengecek saldo rekening tabungan miliknya. Ternyata isinya raib. Akibat kejadian itu, korban mengalami kerugian Rp250 juta dan melaporkan kejadian tersebut ke pihak kepolisian Polres Cimahi.

Berdasarkan laporan tersebut, kata Kombes Pol Ibrahim Tompo, polisi melakukan penyelidikan intensif. Hasilnya, polisi memperoleh data, terduga pelaku berada Kabupaten OKI, Sumatera Selatan.

"Setelah mendapat kabar dari Polda Sumatera Selatan bahwa terduga pelaku telah berhasil diamankan, selanjutnya penyidik Polres Cimahi berangkat ke Palembang untuk melakukan pemeriksaan terhadap terduga pelaku yang diamankan," ucap Kombes Pol Ibrahim Tompo. 

Kabid Humas Polda Jabar menyatakan, penyidik Polres Cimahi membawa ketiga tersangka ke Polres Cimahi untuk dilakukan penyidikan lebih lanjut. "Dari hasil pemeriksaan, tersangka telah menjalankan aksinya beberapa kali sejak Juni hingga Agustus 2022 dengan jumlah korban enam orang. Mereka meraup uang hasil kejahatan sejumlah Rp807.300.000," ujar Kabid Humas Polda Jabar.

Akibat perbuannya, tutur Kombes Pol Ibrahim Tompo, ketiga pelaku dijerat Pasal 45a ayat 1 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dan atau Pasal 378 KUHPidana dan atau 372 KUHP. “Ketiga tersangka terncam hukuman paling lama enam tahun penjara dan atau denda paling banyak Rp1 miliiar,” tutur Kombes Pol Ibraim Tompo.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT