Gubernur Jabar, Ridwan Kamil saat memberikan cinderamata kepada Wali Kota Assisi Stefania Proietti, Sabtu (21/5/2022). (Foto: Istimewa)
Agung Bakti Sarasa

BANDUNG, iNews.id - Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil menghadiri Acara The Assisi and Roma Roundtable 2022 di Kota Assisi, Italia, akhir pekan kemarin. Kang Emil, sapaan akrab Ridwan Kamil hadir sebagai pembicara dalam acara yang digelar oleh Global Foundation, organisasi nirlaba yang fokus pada beragam masalah global. 

Sedikitnya 50 perwakilan negara, swasta, hingga seniman hadir dalam acara untuk mencapai pemahaman bersama. Adapun tema besar yang diusung dalam kegiatan itu, yakni "Cooperative Globalisation-Navigating the Unknown Together, Toward Peaceful, Global Existance".

Dalam acara itu, Kang Emil menuturkan, tahun ini, Indonesia yang memiliki populasi penduduk hingga 300 juta orang menjadi tuan rumah pertemuan G-20. 

Menurutnya, forum 20 negara yang menguasai separuh ekonomi dunia ini sangat penting, agar semua pihak memiliki pemahaman bersama yang lebih baik. 

"Kami mengundang semua yang ada di sini untuk menjadi bagian dari dialog, khususnya di tengah perang antara Ukraina dan Rusia. Semoga perdamaian bisa mengakhiri perang ini," tutur Kang Emil dalam keterangan resminya yang dilihat Senin (23/5/2022). 

Selain membawa pesan damai, khususnya untuk mengakhiri perang Rusia-Ukraina, Kang Emil pun mengatakan, pemahaman bersama yang ingin dicapai dalam pertemuan itu sangat penting. 

Terlebih, kata Kang Emil, pemahaman bersama sangat penting bagi pemimpin yang harus membuat keputusan setiap hari. Menurutnya, pemahaman data yang baik akan menghasilkan keputusan baik. Sebaliknya, data yang buruk bakal menghasilkan keputusan yang buruk. 

"Saya menempuh perjalanan jauh sampai ke Assisi untuk memperoleh pemahaman lebih baik tentang apa yang  menjadi perhatian global. Tujuannya, saat saya kembali ke Indonesia, saya mempunyai perspektif lebih baik mengatasi banyak distraksi," tutur Kang Emil. 

Dia menerangkan, saat ini, setidaknya ada tiga distraksi yang tengah terjadi, yakni pemanasan global, disrupsi digital, dan kondisi pascapandemi Covid-19. Untuk menghadapinya, dibutuhkan pemahaman global hingga akar rumput. 


Dia menyebutkan, salah satu distraksi itu adalah pemanasan global. Dalam berbagai aktivitas, warga dunia menghasilkan terlalu banyak karbon. Langkah tepat harus dilakukan yang dapat dimulai dari disi sendiri. 

"Saat ini saya mempromosikan untuk mengurangi karbon. Saya satu-satunya Gubernur yang menggunakan mobil listrik karena saya harus kampanye, saya harus walk the talk (berbuat sesuai perkataan)," ujarnya. 

Aksi lainnya adalah dukungan Jabar untuk menginisiasi pembangunan beragam infrastruktur ramah energi. Dalam waktu dekat, Jabar bakal menjadi rumah bagi pembangkit listrik tenaga matahari, bayu, hingga panas bumi yang diklaim menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. 

"Kami memproduksi solar panel terbesar mengapung di atas air di Asia Tenggara. Kami membangun geotermal terbesar untuk mengganti bahan bakar fosil," kata Kang Emil. 

"Bersama sedikitnya 100 kepala daerah di Indonesia, kami juga berkomitmen mewujudkan langkah transformasi ke energi terbarukan," sambung Kang Emil yang juga Ketua Asosiasi Daerah Penghasil Migas dan Energi Terbarukan itu. 


Distraksi kedua, lanjut Kang Emil, yakni disrupsi digital. Dia menjelaskan, digitalisasi membuat jutaan orang kehilangan pekerjaan. Namun, digitalisasi juga menciptakan 120 juta pekerjaan baru. Menurutnya, digitalisasi juga efektif untuk mendukung pemimpin mengambil keputusan untuk warga. 

"Lewat digitalisasi, kami membuat konsep rural digital untuk membuat digital ekonomi inklusif. Di Jawa Barat, kami sudah memberi makan ikan dan ternak menggunakan telepon genggam. Kami telah ada di titik itu dalam transformasi digital," katanya. 

Distraksi berat lainnya adalah pascapandemi. Jabar, kata Kang Emil, kehilangan sedikitnya 14.000 orang akibat Covid-19. Namun, dia pun mengaku bahagia karena lewat upaya pengendalian yang, sekitar 200.000 orang terpapar Covid-19 dari total populasi Jabar yang mencapai 50 juta jiwa. 

"Bisa Anda bayangkan, saya harus mengelola 50 juta orang. Saya harus meyakinkan jutaan orang untuk vaksinasi, tetapi ini juga berkah karena Tuhan memberi kesempatan saya menjadi pemimpin saat menghadapi krisis pandemi," katanya. 


Sementara itu, Menteri Infrastruktur Berkelanjutan dan Mobilitas Italia, Enrico Giovannini menilai, bukan perkara mudah mengubah dunia yang sedang  berubah. Apalagi, kini terjadi dengan situasi dramatis di Ukraina seiring meningkatnya ketegangan di seluruh dunia. 

Namun, meski sulit, bukan berarti tak ada jalan. Kondisi ini menurutnya menjadi kesempatan menunjukkan cara pikir baru untuk bisa membuat perubahan.

"Kepemimpinan nyata, seperti Gubernur Jawa Barat di Indonesia yang menjadi tuan rumah G-20 juga menerapkan prinsip berkelanjutan. Ini menjadi modal baik untuk menjalin banyak langkah nyata dengan berbagai negara untuk dunia lebih baik," kata Enrico Giovannini.


Editor : Asep Supiandi

BERITA TERKAIT