Dari hasil penyidikan, jaringan ini sudah memperdagangkan 25 bayi, dengan 15 di antaranya dipindahkan ke Singapura menggunakan modus adopsi.
Divhubinter Polri juga mendorong penyidik menelusuri Nomor Induk Kependudukan (NIK) porter yang diduga mengantar bayi ke Singapura untuk memastikan jalur keberangkatan. Dokumen notaris berbahasa Inggris digunakan sebagai legalitas semu untuk memuluskan praktik adopsi.
Para tersangka dijerat Pasal 2 Ayat 1 UU Nomor 21 Tahun 2007 tentang TPPO dengan ancaman 15 tahun penjara dan denda hingga Rp600 juta. Polisi menegaskan akan menuntaskan kasus ini dan memastikan pelaku lintas negara diproses hukum.
Editor : Donald Karouw
Artikel Terkait