Dalam kepercayaan masyarakat Sunda kala itu, ujar Prof Nina, ibu kota kerajaan diyakini sebagai pusat mikrokosmos. Cukup dengan menyebut nama mikrokosmos, berarti sudah menyebut seluruh wilayah kerajaan.
“Itu sebabnya yang beken sekarang itu Padjadjaran. Padahal yang betul Kerajaan Sunda. Itulah kita harus berpegang pada sumber primer,” ujar Prof Nina.
Menurut dia, sumber primer diyakini para ahli sebagai bukti otentik yang bisa menjadi referensi suatu sejarah. Hal ini juga bisa menjadi rujukan dari beragam perdebatan yang muncul dari proses interpretasi sejarah.
Berbeda dengan kerajaan lain di Tanah Air, Kerajaan Sunda dan Galuh hanya memiliki sedikit literatur autentik yang sampai saat ini masih ditemui keberadaannya. Kendati begitu, nama besar para petinggi kerajaan ini cukup dikenal luas di seantero negeri.
Prof Nina menuturkan, salah satu polemik yang terus terjadi, yaitu terkait kepercayaan Kerajaan Sunda. Kepercayaan yang dianut Sri Baduga Maharaja termaktub dalam Prasasti Batu Tulis yang didirikan Prabu Surawisesa, 12 tahun setelah kematian Sri Baduga Maharaja atau Prabu Siliwangi.
Editor : Agus Warsudi
unpad Unpad Bandung kerajaan padjadjaran universitas padjadjaran bersejarah sejarah jalan prabu siliwangi
Artikel Terkait