Dalam prasasti itu, tutur Prof Nina, disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja, ayah dari Prabu Surawisesa, meninggal pada 1521. Jenazahnya kemudian diperabukan. “Kenapa diperabukan karena dia beragama Hindu,” tutur Prof Nina.
Berbekal informasi dari sumber primer, kata Prof Nina, disebutkan bahwa Sri Baduga Maharaja meninggal dalam keadaan beragama Hindu. meskipun ada bukti sekunder yang menerangkan bahwa Prabu Siliwangi beragama Islam.
Menjelang akhir hayat Prabu Siliwangi, mulai banyak pendatang yang menetap di Tatar Sunda. Para pendatang tidak hanya beragama Hindu, tetapi ada pula yang beragama Budha dan Islam.
Prof Nina menyatakan, beragamnya kebudayaan dan agama di Tatar Sunda membuktikan bahwa kerajaan Sunda memiliki toleransi tinggi. Bahkan, penyebaran Islam di Tatar Sunda sudah berlangsung sejak abad ke-14.
Editor : Agus Warsudi
unpad Unpad Bandung kerajaan padjadjaran universitas padjadjaran bersejarah sejarah jalan prabu siliwangi
Artikel Terkait