Emak-emak sibuk menyajikan Bubur Sura di Blok Minggu, Desa Bantarwaru, Kecamatan Ligung, Kabupaten Majalengka. (Foto: iNews.id/Inin Nastain)

Selain hanya bisa ditemukan pada bulan Sura atau Muharram saja, penampilan dari Bubur Sura ini pun berbeda dengan bubur pada umumnya. Jika pada umumnya bubur berwarna putih, Bubur Sura ini memiliki warna yang cukup mencolok yakni Kuning.

Tidak ada minyak bawang yang berfungsi sebagai kuah, seperti halnya yang terlihat pada bubur ayam. Bubur Sura ini sama sekali tidak ada bahan cair, sebagai pengganti kuah.

Pada bagian atas, Bubur Sura cukup kaya dengan toping, telor dadar suwir, kol, cabai merah.

Pada zaman nenek moyang dulu, Bubur Sura juga dilengkapi dengan ubi-ubian yang dimasak jadi satu dalam wadah besar, juga biji asam yang terlebih dahulu direbus sampai empuk. Namun saat ini, tambahan tersebut tidak terlihat, mengingat sudah mulai sulit didapat.

"Konon kata orang tua, ini diambil dari sejarah Nabi Nuh, setelah selamat dari banjir besar. Beliau bersama pengikutnya memasak setiap bahan-bahan yang tersisa, selamat dari Banjir itu," kata dia. 


Editor : Asep Supiandi

Halaman Selanjutnya
Halaman :
1 2 3
BERITA POPULER
+
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network