Albert Einstein, ilmuwan Yahudi. (Foto: Istimewa)
Ahmad Islamy Jamil

LONDON, iNews.id – Albert Einstein, ilmuwan dan fisikawan berdarah Yahudi kelahiran Jerman, memiliki sikap berbeda dari orang Yahudi kebanyakan. Selain mengecam keras gerakan Zionis dan menyamakan Partai Israel dengan Nazi, ilmuwan yang melahirkan rumus E=MC2 ini, juga memprediksi kehancuran Israel.

Kecaman dan penilaian Albert Einstein itu akhirnya terbukti saat ini. Israel yang didirikan para aktivis Zionisme dan Partai Israel, melakukan kekejaman dan bencana kemanusiaan bagi rakyat Palestina sejak puluhan tahun silam. 

Sikap dan prediksi Albert Einstein itu terdokumentasi dalam suratnya yang fenomenal berjudul "The 'final' downfall of Israel was predicted by Einstein". Penolakan Einstein atas Israel dan gerakan zionisme juga terangkum dengan baik dalam artikel yang ditulis jurnalis masyhur asal Inggris, Yvonne Ridley. 

Artikel itu dimuat di laman Middle East Monitor, Jumat (4/6/2021) lalu. Einstein pernah meramalkan kematian Israel ketika dia diminta untuk membantu mengumpulkan dana untuk sel-sel teroris zionis. 

Sepuluh tahun sebelum Negara Israel dideklarasikan di atas tanah yang dicuri dari rakyat Palestina pada 1948, Einstein menggambarkan pembentukan negara itu sebagai sesuatu yang bertentangan dengan sifat hakiki agama Yahudi. 

Setelah melarikan diri dari Jerman karena kekejaman Hitler, Einstein akhirnya menjadi warga negara Amerika Serikat. Sang ilmuwan memahami betul seperti apa fasisme yang diusung Hitler saat itu.

Pada 1946, ketika berbicara di hadapan Komite Penyelidikan Anglo-Amerika tentang masalah Palestina, Einstein mengungkapkan ketidaksetujuannya atas pendirian Israel. “Saya yakin, (Israel) itu adalah hal yang buruk,” kata Einstein.

Dua tahun kemudian, pada 1948, dia dan sejumlah akademisi Yahudi mengirim surat ke New York Times untuk memprotes kunjungan tokoh zionis, Menachem Begin, ke Amerika. Dalam surat itu, mereka mengecam Partai Herut pimpinan Begin, menyamakannya dengan Nazi dan fasisme Hitler.

Menurut para ilmuwan Yahudi itu, Herut dan Nazi sangatlah mirip, baik dalam hal organisasi, metodologi, filosofi politik, dan daya tarik sosialnya. Herut adalah partai nasionalis sayap kanan yang kemudian menjadi Likud yang kini dipimpin oleh Benjamin Netanyahu. 

Sebagai pemimpin Irgun—kelompok teroris zionis yang memisahkan diri dari organisasi paramiliter Yahudi yang lebih besar, Haganah—Begin menjadi buron karena aktivitas terorismenya melawan Mandat Inggris atas Palestina. 

Bahkan, ketika dia menjadi perdana menteri Israel pada 1977-1983, Begin tidak pernah berani mengunjungi Inggris, lantaran masih berada dalam daftar orang yang paling dicari di negeri Eropa itu.

Berbagai kekerasan yang terjadi menjelang kelahiran Israel, membuat Einstein semakin muak. Itu pula yang membuatnya menolak tawaran untuk menjadi Presiden Israel pada 1952. Tawaran tersebut ditawarkan kepada Einstein oleh perdana menteri pertama sekaligus pendiri negara zionis, David Ben-Gurion. 

Meskipun penolakannya ketika itu terkesan halus dan sopan, Einstein percaya jabatan itu akan bertentangan dengan hati nuraninya sebagai pasifis (orang yang menolak perang dan berbagai macam bentuk kekerasan). Alih-alih harus pindah ke Timur Tengah, dia lebih memilih untuk tetap tinggal di rumahnya di Princeton, New Jersey, AS, sebagai pengungsi Jerman.

“Saat meneliti pandangan Einstein, saya menemukan surat-suratnya yang lain, yang kurang terkenal, tetapi mungkin jauh lebih mengungkapkan daripada yang lain yang telah dia tulis tentang masalah Palestina,” tulis Ridley dalam artikelnya.

 Surat itu sangatlah singkat, hanya terdiri atas 50 kata. Dalam surat itu, Einstein juga memberikan peringatan tentang malapetaka terakhir yang dihadapi Bangsa Palestina di tangan kelompok teror zionis.

Dear Sir,

When a real and final catastrophe should befall us in Palestine the first responsible for it would be the British and the second responsible for it the Terrorist organizations build [sic] up from our own ranks. I am not willing to see anybody associated with those misled and criminal people.

Sincerely yours,

Albert Einstein.

Terjemahannya kurang lebih seperti ini:

Yang terhormat,

Ketika bencana nyata dan terakhir harus menimpa kita di Palestina, yang pertama bertanggung jawab untuk itu adalah Inggris dan yang kedua bertanggung jawab untuk itu organisasi Teroris membangun [sic] dari barisan kita sendiri. Saya tidak ingin melihat siapa pun yang terkait dengan orang-orang yang disesatkan dan para kriminal itu.

Hormat kami,

Albert Einstein.

Surat itu diketik Einstein ditujukan kepada Shepard Rifkin selaku direktur eksekutif American Friends of the Fighters for the Freedom of Israel, yang berbasis di New York. Kelompok itu awalnya diluncurkan untuk mempromosikan ide-ide anti-Inggris yang dicetuskan Stern Gang. Namun, mereka kemudian juga mengumpulkan uang di Amerika untuk membeli senjata yang digunakan untuk mengusir Inggris dari Palestina. 

Surat tersebut telah disahkan keasliannya dan terjual dalam lelang. Surat itu pun digambarkan sebagai salah satu dokumen antizionis paling memberatkan yang dikaitkan dengan sang penemu Teori Relativitas itu.

Surat singkat Einstein itu ditulis kurang dari 24 jam setelah munculnya berita pembantaian Deir Yassin di Yerusalem Barat pada April 1948. Dalam peristiwa itu, sekitar 120 teroris dari kelompok  Irgun pimpinan Begin dan kelompok Stern Gang yang diketuai Yitzhak Shamir (seorang teroris zionis lainnya yang kemudian menjadi perdana menteri Israel) memasuki satu desa Palestina. Di sana, mereka membantai antara 100 dan 250 pria, perempuan, dan anak-anak. 

Beberapa dari korban meninggal dunia karena tembakan. Sementara, yang lainnya tewas akibat ledakan granat tangan yang dilemparkan teroris zionis ke rumah-rumah mereka. Penduduk desa yang tadinya hidup damai tenteram itu, terbunuh setelah direnggut paksa dalam parade yang aneh melalui Yerusalem Barat. Ada juga laporan tentang pemerkosaan, penyiksaan, dan mutilasi yang dilakukan zionis terhadap warga Palestina lainnya.

Sebulan kemudian, Inggris mengakhiri kekuasaannya atas Mandat Palestina. Israel pun muncul. Legitimasi yang diklaim oleh para pendirinya adalah Resolusi Pemisahan PBB November 1947 yang mengusulkan agar Palestina dibagi menjadi dua negara, satu Yahudi dan satu Arab, dengan Yerusalem dikelola secara independen dari kedua belah pihak.

Sebagai seorang pasifis seumur hidup, Einstein menyukai gerakan perdamaian global ketika dia menulis “Manifesto untuk Orang-Orang Eropa” yang menuntut perdamaian di Eropa melalui persatuan politik semua negara di seluruh benua biru itu. Tidak heran, dia tak pernah mengunjungi Israel sejak negara Yahudi itu didirikan—yang terbentuk dari peluru senjata api, dinamit, dan, darah rakyat Palestina.

Sampai hari ini, kata Ridley, ada banyak tragedi “Deir Yassins” lainnya sejak Einstein mengutuk langsung peristiwa yang dilihatnya sebagai terorisme Yahudi itu. Termasuk di antaranya gempuran Israel selama 11 hari ke Gaza, Mei lalu, yang menewaskan 254 warga Palestina, termasuk 39 perempuan dan 66 anak-anak.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT