Yusup Gigan menyatakan, kehadiran Jatayu juga mempresentasikan kreativitas pelaku seni dengan kemungkinan-kemungkinan baru dalam kekaryaan. “Jatayu yang dibawakan Wina memang luar biasa,” ujar Yusup Gigan.
Sebelumnya, Direktur Program Yayasan Kebudayaan Lokatmala Indonesia, Dika Dzikriawan mengatakan, helaran ini milik warga Cianjur yang memang seharusnya pemerintah hadir di dalamnya.
“Kami berterima kasih kepada Pemkab Cianjur yang mendukung pesta rakyat ini setelah pandemi Covid-19 mereda,” kata Dika yang juga Tenaga Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Cianjur itu, Kamis (18/8/2022).
Dika Dzikriawan menyatakan, selain kehadiran Kuda Kosong, tampil pula tokoh Jatayu dalam helaran ini. Jatayu ditampilkan dalam konsep tari jalanan menggunakan egrang setinggi 1 meter tanpa pegangan oleh Wina Rezky Agustina.
“Jatayu sejatinya adalah simbol keprihatinan kami terhadap salah satu satwa endemik penghuni hutan-hutan Cianjur, yakni Elang Jawa (Nisaetus Bartelsi),” ujar Dika Dzikriawan.
Editor : Agus Warsudi
elang jawa habituasi elang jawa Burung Garuda Helaran budaya Pagelaran Seni budaya pagelaran seni pawai pawai budaya bupati cianjur cianjur
Artikel Terkait