Sirkular Kopi Espresso Kukang Jawa, dari Disabilitas hingga Pemberdayaan Ekonomi Warga
Di meja bar, Rifki telah bersiap dengan menu kue balok di baki yang dibawanya. Bersama satu gelas kopi espresso buatan Arifin kemudian diantarkannya kepada tamu yang telah menunggu di sudut kafe.
“Silakan,” ujar Rifki menggunakan bahasa isyarat, tangan kanan ke depan dengan telapak terbuka kepada tamu kafe. Secangkir kopi espresso tak pahit dan tak asam dihidangkan, siap diseruput sembari ditemani rintik hujan sore.
Tapi siapa kira, di balik kepiawaian dua pelayan tersebut, mereka adalah disabilitas tuna rungu. Arifin atau Rifki, sama-sama tidak bisa mendengar. Bedanya Rifki masih bisa berucap dengan sempurna. Sementara Arifin, selain tuna rungu juga kesulitan bicara.
Tak ada yang mengira, Arifin dan Rifki baru tiga minggu bergabung sebagai pramusaji dan barista di Kafe Kue Balok Mang Salam x Kopi Kang!. Namun kemahiran Arifin dan Rifki meracik kopi patut diapresiasi. Pandangan miring terhadap disabilitas, mereka patahkan melalui karya nyata, bekerja secara profesional.
Kendati sulit mengungkapkan perasaan dengan kata-kata, raut wajah bahagia Arifin tak bisa dibohongi dengan profesinya saat ini. Pria berusia 30 tahun ini begitu ceria menceritakan kisah menjadi seorang barista. “Senang bisa punya pekerjaan sendiri. Menimba ilmu, menambah pengalaman di sini,” ucap Arifin dengan terbata-bata.
Editor: Agus Warsudi