Sering Jadi Sumber Disinformasi dan Picu Kegaduhan, Medsos Ancam Keutuhan Pancasila 

Agung Bakti Sarasa · Sabtu, 27 Februari 2021 - 19:45:00 WIB
Sering Jadi Sumber Disinformasi dan Picu Kegaduhan, Medsos Ancam Keutuhan Pancasila 
Staf Ahli Menkominfo, Henry Subiakto. (Foto: BPIP)

JAKARTA, iNews.id - Maraknya penggunaan media sosial (medsos) di era digital saat ini tak hanya menghadirkan sisi positif, tapi juga menimbulkan dampak negatif. Saat ini hoaks atau kabar bohong marak dan mengancam keutuhan Pancasila sebagai falsafah hidup bangsa Indonesia.

Staf Ahli Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Henry Subiakto dalam Webinar Series yang digelar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Sabtu (27/2/2021), mengatakan, bahkan medsos kini diibaratkan sebagai 'keranjang sampah'. Ini mengingat banyaknya disinformasi yang dikhawatirkan bakal berdampak luas terhadap sendi-sendi kehidupan masyarakat.

"Pengguna medsos di Indonesia 196,7 juta orang. Medsos jadi ajang aktivitas sosial, itulah yang menyebabkan muncul kegaduhan-kegaduhan di media sosial. Medsos jadi sumber disinformasi. Di mana fakta-fakta dikesampingkan dan keyakinan didahulukan. Itulah post truth paradocks of democracy," kata Henry Subiakto.

Terlebih, kata Henry, medsos pun kini marak digunakan sebagai jalan masuknya ideologi transnasional dan radikalisme. Menurutnya, ideologi transnasional dan radikalisme akan sangat berbahaya jika bersinergi dengan kekuatan politik praktis.

"Apalagi, sampai saat ini, masih ada pihak-pihak yang ingin mengubah ideologi pancasila. Ini adalah konsekuensi ideologi transnasional," katanya. 

Dalam Webinar Series yang mengusung tema "Gotong Royong Mengaktualisasikan Pancasila: Pers Sebagai Akselerator Perubahan Melalui Media" itu, Henry menegaskan bahwa di tengah kondisi tersebut, peran pers sangat dibutuhkan. Menurutnya, pers menjadi benteng untuk mem-filter ideologi transnasional dan proxy asing.

"Di era digital, pers dituntut berperan aktif menjaga nilai kebangsaan dan ruang digital dan tidak membiarkan media sosial menjadi 'keranjang sampah'," ucapnya.

Editor : Maria Christina

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: