Sarjana TI Tembus 400.000 Orang, Mayoritas Tak Penuhi Kualifikasi Industri 

Arif Budianto · Senin, 05 April 2021 - 14:03:00 WIB
Sarjana TI Tembus 400.000 Orang, Mayoritas Tak Penuhi Kualifikasi Industri 
Ilustrasi

BANDUNG, iNews.id - Mayoritas lulusan  teknik informatika (TI) di Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan kalangan industri bidang teknologi informasi. Padahal, jumlah lulusan TI setiap tahunnya cukup besar. 

CEO Dicoding Indonesia Narenda Wicaksono mengaku, setiap tahunnya Indonesia memiliki lulusan sarjana atau sekolah kejuruan TI tak kurang dari 400.000 orang. Mereka dihasilkan dari ratusan perguruan tinggi serta sekolah kejuruan program studi TI. 

Sayangnya, mayoritas lulusan TI belum memenuhi kualifikasi sumber daya manusia (SDM) yang dibutuhkan industri saat ini. 

"Tapi apakah mereka sudah memenuhi syarat, belum. Hanya sedikit yang memenuhi syarat sebagaimana kebutuhan industri saat ini," kata Narenda, Senin (5/4/2021).

Padahal, menurut dia, kebutuhan terhadap SDM TI di Indonesia diperkirakan mencapai 200.000 orang per tahun. Jumlah tersebut akan terus bertambah, seiring perkembangan teknologi informasi yang kian pesat. Beberapa yang dibutuhkan misalnya SDM yang mampu menggarap bidang artificial intelligence dan back end developer. 

Oleh karenanya, kata dia, berbagai sarana untuk menunjang keahlian lulusan TI sangatlah dibutuhkan. Baik dalam bentuk sarana pelatihan, sertifikasi, atau kegiatan yang mampu mendorong lulusan TI lebih kreatif menyalurkan bakatnya. 

Sementara itu, untuk mendorong lahirnya SDM kreatif di bidang IT, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) menggelar event Baparekraf Developer Day (BDD) pada 3 April 2021 di Bandung. Event ini digelar untuk  mengembangkan ekosistem developer aplikasi yang berkualitas. 

BDD merupakan event yang bertujuan mengasah kemampuan teknis pengembang aplikasi di Indonesia. Mempertemukan para pelaku dan praktisi di industri digital kreatif dengan para developer dalam sebuah sesi transfer pengetahuan dengan standar industri. 

“Ekonomi digital merupakan salah satu sektor yang bertumbuh di masa pandemi. Makanya kami terus mendorong ekosistem developer lokal, sehingga tercipta sinergi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas developer,” ujar Deputi Bidang Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Kemenparekraf/Baparekraf Muhammad Neil El Himam.

Editor : Asep Supiandi

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: