Ridwan Kamil soal Pentingnya Vaksinasi: Tak Ada yang Aman sampai Semuanya Terlindungi

Agung Bakti Sarasa · Kamis, 02 September 2021 - 07:00:00 WIB
Ridwan Kamil soal Pentingnya Vaksinasi: Tak Ada yang Aman sampai Semuanya Terlindungi
Gubernur Jabar Ridwan Kamil. (Foto: Humas Pemprov Jabar) 

BANDUNG, iNews.id - Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menyatakan vaksinasi Covid-19 penting dilaksanakan di seluruh wilayah Indonesia, tak hanya di Pulau Jawa. Menurut Gubernur yang akrab disapa Kang Emil ini, tak ada yang aman dari virus Corona sampai semuanya terlindungi oleh vaksin. 

Karena itu, pemerintah harus melaksanakan vaksinasi di luar Ibu Kota DKI Jakarta dan Pulau Jawa. Indonesia aman jika program vaksinasi daerah di luar Ibu Kota dan Pulau Jawa berjalan aman. 

"No one safe until everyone is safe (tak ada seorang pun yang aman sampai semua terlindungi)," kata Kang Emil dalam keterangan tertulis, Rabu (1/9/2021) malam.
 
Dalam kondisi pandemi Covid-19 saat ini, ujar Kang Emil, semua warga tidak akan aman sampai semua masyarakat di Indonesia aman.

"Artinya, kita juga harus memastikan vaksinasi di luar DKI dan Pulau Jawa, Aman. Tidak bicara wilayah, tidak bicara hanya Ibu Kota, tidak bicara Pulau Jawa, tapi Indonesia," ujarnya.

Menurut Kang Emil, pandemi Covid-19 tidak mengenal batas-batas administrasi. Keberhasilan vaksinasi di satu daerah tidak akan berpengaruh banyak jika daerah lain belum optimal. Begitu pun masalah kekurangan vaksin di satu daerah, akan berdampak terhadap daerah lain.

Provinsi Jabar, tutur Kang Emil, menjadi gambaran betapa beratnya mengejar kekebalan komunal atau herd immunity yang ditargetkan terbentuk pada Desember 2021. Pemprov Jabar tengah mengejar target cakupan vaksinasi di tengah keterbatasan vaksin yang dialokasikan pemerintah pusat untuk Jabar. 

Kang Emil menuturkan, untuk menciptakan kekebalan komunal, 75 persen dari total 50 juta penduduk Jabar harus divaksin. Artinya, ada 37 juta jiwa warga Jabar yang menjadi target vaksin. Angka sebesar itu harus dicapai dalam waktu empat bulan sesuai permintaan Presiden Joko Widodo (Jokowi). 

"Kita sudah dikasih (vaksin) 18,6 juta dosis. Sudah disuntikan 14,4 juta atau 77,4 persen dari yang dikasih. Dosis pertama 25 persen atau 9,4 juta penduduk. Dosis kedua 5 juta," tutur Kang Emil.

Namun, ungkap Kang Emil, banyak kendala yang dihadapi daerah di Jabar, yakni distribusi vaksin yang belum proporsional untuk mendorong target vaksinasi tuntas akhir tahun ini. 

Gubernur mengatakan, sesuai perhitungan, Jabar membutuhkan 15 juta dosis per bulan agar 37 juta warga Jabar bisa divaksin hingga akhir tahun ini. Suplai vaksin yang tidak proporsional menjadi kendala paling berat untuk mencapai target itu.

"Ada provinsi yang penduduknya sedikit, tapi vaksinnya banyak. Ada provinsi besar seperti Jabar vaksinnya sedikit yang ngasihnya. Maka kalau dipersentasekan masih jauh. Padahal, jumlah vaksinnya saja sedikit. Jadi, kalau Desember mau beres tolong suplai ke Jabar tidak kurang 15 juta dosis per bulan," ucap Gubernur.

Masalah lain, ujar Kang Emil, teritorial wilayah Jabar luas dan acak berdampak kepada kecepatan vaksinasi. Hal itu sebanding dengan dukungan infrastruktur, khususnya di sektor layanan kesehatan. Saat ini, Jabar hanya memiliki sekitar 1.000 puskesmas di 27 kabupaten/kota.

"Teritorial di Jabar itu beragam. Jadi tak bisa dibandingkan dengan yang homogen. Jabar itu ada kota dan kabupaten pedalaman, pelosok yang jangkauannya susah secara mobilitas. Infrastruktur juga terbatas dan tidak merata. Jumlah puskesmas kita hanya 1.000-an, padahal standar WHO 5.000-an," ujar Kang Emil. 

Kang Emil juga menempatkan persoalan Jabar sebagai daerah otonom di mana Pemprov Jabar tidak memiliki kuasa  dalam menentukan kuota vaksin per daerah. Hal itu menciptakan kendala dalam penyerapan vaksin di daerah. 

"Pada saat suplai vaksin tak menentu, urutannya itu pemerintah pusat memberikan kuota kepada kota kabupaten angkanya sudah dikunci. Kemudian, provinsi ditugaskan mengirimkan. Jadi, tugas provinsi ini dalam pandangan saya memang kurang maksimal karena yang ngatur kuota kabupaten/kota itu dari pusat," tuturnya. 

Kesimpulannya, kata Kang Emil, proses vaksinasi di Jabar tidak akan selesai akhir tahun ini jika suplai vaksin yang diterima tidak proporsional dengan jumlah penduduk. 

"Kalau kata Presiden, Jabar harus beres Desember, itu membutuhkan kurang lebih 15 juta dosis per bulan. Jadi jangan bicara kurang atau apa kalau suplainya saja tak sebanyak ini. Jadi problemnya itu bukan di daerah, tapi suplainya belum masuk. Kalau berhasil menjamin 15 juta dosis per bulan untuk Jabar, maka targetnya 500.000 orang disuntik per hari," ucap Kang Emil. 
 
Dalam urusan kecepatan vaksin, tambah Kang Emil, dua bulan lalu Jabar hanya mampu menyuntikan 50.000 dosis vaksin per hari. Angka ini meningkat menjadi 235.000 dosis per hari pada akhir Agustus 2021. Bahkan, dalam acara Gebyar Vaksin 28 Agustus lalu, Jabar bisa menyerap 420.000 dosis vaksin per hari. 

"Alhamdulillah dua bulan lalu kita masih 50.000 dosis per hari. Akhir Agustus kemarin rata-rata 235.000 per hari. Dan kita testing tanggal 28 Agustus kita bisa 420.000," ujar Gubernur Jabar.

Editor : Agus Warsudi

Bagikan Artikel: