Ribuan Sapi Terkena PMK, Pasokan Susu ke KPSBU Lembang KBB Turun hingga 60 Persen 

Adi Haryanto · Kamis, 30 Juni 2022 - 11:44:00 WIB
Ribuan Sapi Terkena PMK, Pasokan Susu ke KPSBU Lembang KBB Turun hingga 60 Persen 
Wabah PMK yang terus menyebar di wilayah KBB mengakibatkan pasokan susu sapi ke KPSBU Lembang menurun karena banyak sapi yang sakit sehingga produksi susunya turun. (Foto: iNews.id/Adi Haryanto)

BANDUNG BARAT, iNews.id - Pasokan susu segar ke Koperasi Peternak Sapi Bandung Utara (KPSBU) Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), terimbas wabah penyakit mulut dan kuku (PMK). Pasalnya, susu yang dihasilkan setiap harinya berkurang drastis.

Banyaknya sapi perah yang sakit terpapar PMK sehingga produksi susu yang dihasilkan menjadi berkurang. 

"Pasokan susu ke KPSBU turun hingga 60 persen lebih. Contohnya sapi yang biasa memproduksi 20 liter susu, setelah terkena PMK hanya 3 liter per hari," kata Kepala KPSBU Lembang, Dedi Setiadi, Kamis (30/6/2022).

Menurutnya, secara kumulatif jika setiap harinya pasokan susu yang masuk ke KPSBU bisa mencapai 120-140 ton per hari, saat PMK ini pasukan susu yang diterima hanya 80 ton. Kondisi itu diperparah dengan terus bertambahnya hewan ternak khususnya sapi perah yang terpapar. 

Padahal anggota KPSBU Lembang kebanyakan adalah peternak sapi yang tinggal di wilayah Lembang, Cisarua, dan Parongpong. Sementara berdasarkan data dari Dinas Perikanan dan Peternakan (Dispernakan), KBB, tiga wilayah itu merupakan daerah yang kasus PMK-nya paling tinggi. 

Seperti di Kecamatan Lembang hewan ternak yang terpapar 5.238 ekor, terdiri dari sapi potong 27, sapi perah 5.207, dan domba/kambing 4 ekor. Di Parongpong sebanyak 1.061 ekor, terdiri dari sapi potong 14 dan sapi perah 1.047 ekor. Sementara di Kecamatan Cisarua total ada 965 kasus PMK yang menyerang sapi. 

"Pada ternak sapi perah tingkat penularan penyakit ini mencapai 100 persen, jadi kalau ada satu yang kena di kandang, maka kemungkinan yang lain akan kena juga, karena penularannya cepat," tuturnya. 

Selain itu, lanjut Dedi, kerugian di tataran peternak juga tinggi. Sebab ketika ada sapinya sakit dan harus dipotong bersyarat maka harganya jatuh. Jika biasanya sapi yang di potong dijual ke RPH bisa Rp15 juta sekarang hanya sekitar Rp4-5 juta.

"Belum lagi yang sakit harus diobati dan yang mati, biaya penguburannya juga mahal. Jadi memang peternak sedang merugi dengan adanya wabah PMK ini," ucapnya. 

Editor : Asep Supiandi

Bagikan Artikel: