Ribuan Santri di Tasikmalaya Mulai Kembali, Ponpes Terapkan Protokol Kesehatan secara Ketat

Asep Juhariyono ยท Kamis, 25 Juni 2020 - 11:50 WIB
Ribuan Santri di Tasikmalaya Mulai Kembali, Ponpes Terapkan Protokol Kesehatan secara Ketat
Ribuan santri di Tasikmalaya diperiksa protokol kesehatan. Kamis (25/6/2020) (Foto iNews/Asep Juhariyono).

TASIKMALAYA, iNews.id - Sebanyak 4.500 santri Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, mulai kembali berdatangan. Mereka diperiksa dengan protokol kesehatan Covid-19 yang ketat.

Setiap santri yang datang dari zona merah langsung dikarantina di gedung khusus yang disiapkan oleh pesantren. Selain itu mereka harus membawa surat keterangan sehat dari daerah asal mereka.

Selain itu, jika tidak membawa surat sehat, maka pengurus pesantren akan menolak dan mengembalikan santri tersebut ke daerah asalnya.

Jadwal kedatangan para santri di pondok pesantren terbesar di Tasikmalaya ini dikelompokan dan diatur menurut daerah regional masing-masing.

Para santri tidak diperkenankan untuk menggunakan kendaraan umum. Bagi yang tidak mempunyai kendaraan pribadi, akan ada fasilitas kendaraan khusus yang dikoordinir oleh petugas dari masing-masing daerah, baik dari Jawa maupun luar Jawa.

Tahap pertama santri yang datang dari zona Priangan Timur yakni Tasikmalaya, Garut, Ciamis, Kota Banjar dan Pangandaran.

Kemudian tahap kedua, santri dari luar daerah seperti zona Bandung Raya yakni Kabupaten Bandung, kota dan Kabupaten Bogor, Bekasi dan Jakarta.

Untuk tahap ketiga penerimaan santri yang terakhir pada 5 Juli mendatang dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Jambi, Sulawesi, Sumatera dan provinsi lainnya.

Pimpinan Pondok Pesantren Miftahul Huda Manonjaya, KH Asep Maosul Afandy mengatakan, setiap santri yang telah masuk kembali ke pesantren tetap melakukan protokol kesehatan. Bahkan pihak pesantren telah membuat masker khusus untuk santri.

Selain itu, setiap santri wajib membawa surat keterangan sehat. Lalu sebelum mereka masuk harus melalui pemeriksaan dan akan di karantina terlebih dulu.

"Prosedur kesehatan perlu dilakukan. Bahkan sebagai bukti bikin masker sendiri sebagai antisipasi Covid-19," kata Asep di Tasikmalaya, Kamis (25/6/2020).

Salah satu santri Miftahul mengatakan, selama libur tiga bulan akibat pandemi Covid 19, tetap melakukan kegiatan belajar keagamaan di rumah. Santri asal Pangadaran tersebut sudah hampir enam tahun tinggal di pondok pesantren di kelas mahadul aly atau setingkat ilmu perguruan tinggi.


Editor : Faieq Hidayat