Mengunjungi Benteng Belanda Cikahuripan, Saksi Bisu Sejarah Bangsa di Lembang

Adi Haryanto ยท Sabtu, 12 September 2020 - 20:15 WIB
Mengunjungi Benteng Belanda Cikahuripan, Saksi Bisu Sejarah Bangsa di Lembang
Benteng Belanda yang terletak di Blok Cisaroni, Kampung Cisaroni RW 08, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang KBB, terus dijaga dan dilestarikan sebagai saksi bisu perjalanan sejarah bangsa. (Foto: SINDONews/Adi Haryanto)

BANDUNG BARAT, iNews.id - Jejak-jejak perjuangan kemerdekaan Indonesia di kawasan Bandung, Jawa Barat (Jabar), masih dapat dilihat hingga sekarang. Selain penjara Soekarno di kawasan Banceuy, Kota Bandung dan peristiwa heroik Bandung Lautan Api, wilayah Lembang, Kabupaten Bandung Barat (KBB), diyakini menjadi salah satu daerah penting di masa perjuangan kemerdekaan.

Ini terbukti dengan keberadaan sebuah bangunan bekas benteng tentara Belanda yang berlokasi di Blok Cisaroni, Kampung Cisaroni RW 08, Desa Cikahuripan, Kecamatan Lembang KBB, yang hingga kini masih berdiri kokoh. Meski sebagian ada yang rusak, bentuk bangunan saksi bisu perjalanan sejarah bangsa ini masih terlihat utuh.

Ciri khas benteng ini mempunyai struktur bangunan yang berbentuk segi empat dan terlihat kokoh sebagai perisai pertahanan. Bangunan ini memiliki tinggi kurang lebih 10 meter, luas hingga 5.000-10.000 meter persegi, serta tebal dinding dan lantai kurang lebih 1-1,5 meter. Benteng ini memiliki struktur bangunan bertingkat dua lantai.

Lantai pertama mempunyai empat pintu gerbang, ruangan besar, ruangan kecil, pintu penghubung antar ruangan maupun pintu keluar benteng. Ada sekitar delapan anak tangga untuk ke lantai dua, serta dua tangga darurat. Semuanya masih tersusun rapi, hanya batunya yang terlihat kusam dan berlumut karena pengaruh selimut udara dingin dan hujan.

Sementara di lantai dua ada pintu penghubung, jendela, ruangan besar, ruangan kecil berbagai ukuran, dan sekitar empat anak tangga yang menghubungkan ke atap benteng. Atapnya terbuat dari batu bata merah yang sangat kokoh dan dibuat menyerupai bukit-bukit kecil. Itu sebabnya, bangunan ini sangat ideal untuk tempat pertahanan dan sekaligus untuk mengintai musuh.

Ketua Pokdarwis Tjikahoeripan Gebied Desa Cikahuripan, Lembang, Sigit Kamseno mengatakan, bangunan bersejarah ini harus terus dijaga dan dilestarikan sebagai salah satu bukti perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Dirinya berharap, masyarakat ikut menjaga agar benteng tersebut tidak sampai dirusak oleh orang-orang tidak bertanggung jawab.

"Keberadaan heritage bersejarah ini harus dijaga dan dilestarikan. Selaku Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), kami mencoba menata agar benteng Belanda dan kawasan di sekitarnya tidak rusak oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," kata Sigit Kamseno di Lembang, Sabtu (12/9/2020).

Dia menjelaskan, benteng ini dibangun dengan bentuk memanjang dan melingkar sehingga menjadi markas pertahanan militer. Benteng Belanda Cikahuripan merupakan tipe benteng yang didasari pada dikotomi geografis pedalaman, topologi budaya agraris, atau administratif (pusat kekuasaan dan daerah taklukan atau vasal).

"Benteng ini sangat kuat, karena rata-rata pondasi bangunannya menggunakan batu pada seluruh permukaan dinding," ujarnya.

Dari segi warna, bangunan berciri khas arsitektur Belanda ini memiliki warna putih. Area di sekitarnya kawasan hutan yang masih rindang dan asri sehingga tetap harus dipertahankan.

Lokasi ini tidak bisa dilewatkan wisatawan jika sedang berkunjung ke Bandung dan Bandung Barat. Apalagi, sekarang di kawasan ini sudah terdapat fasilitas penunjang sebagai tempat wisata seperti musala, toilet, kantin, tempat parkir, hiking track, area camping ground, dan area outbond.

"Orang yang ke sini bisa wisata historis sekaligus cocok bagi pencinta alam yang ingin mencari suasana natural," ujarnya.


Editor : Maria Christina