Kronologi Unjuk Rasa Rusuh di Cianjur, 3 Polisi Terbakar dan 11 Orang Diamankan

Mochamad Andi Ichsyan ยท Kamis, 15 Agustus 2019 - 20:19 WIB
Kronologi Unjuk Rasa Rusuh di Cianjur, 3 Polisi Terbakar dan 11 Orang Diamankan
Aksi demo mahasiswa yang memblokade jalan dekat Pendopo Bupati Cianjur dengan membakar ban bekas. (Foto: iNews/Moch Andy Ichsyan)

CIANJUR, iNews.id – Aksi unjuk rasa di Kantor DPRD dan Pemkab Cianjur, Jawa Barat, berlangsung rusuh, Kamis (15/8/2019). Massa memaksa blokade jalan dengan cara membakar ban bekas hingga menyebabkan tiga polisi yang bertugas pengamanan terkena luka bakar serius.

Informasi yang dirangkum, aksi demo ini berasal dari kelompok yang mengatasnamakan Organisasi Kepemudaan (OKP) Cipayung Plus dengan koordinator aksi M Fadil Fahmi. Mereka yakni terdiri atas organisasi mahasiswa dan pemuda. Di antaranya DPC GMNI Cianjur, PC PMII Cianjur, HMI Cianjur, HIMAT, CIF, DPC IMM Cianjur dan PD Hima Persis Cianjur.

Kronologi berawal saat pengunjuk rasa tiba di Kantor DPRD Kabupaten Cianjur di Jalan KH Abdullah bin Nuh, pukul 10.00 WIB. Mereka beraspirasi dengan menyampaikan tujuh tuntutan.


Pada pukul 10.40 WIB, massa aksi diterima Sekretaris Dewan DPRD Cianjur Aris Haryanto. Tuntutan pengunjuk rasa telah diterima dan akan disampaikan ke pimpinan.

“Ke depannya kami akan mengundang Organisasi Kepemudaan (OKP) Cipayung Plus untuk melakukan audienai dengan pimpinan,” katanya saat menerima pengunjuk rasa.

Selepas itu pada pukul 11.00 WINB, masa melanjutkan dengan aksi longmarch dengan rute awal Kantor DPRD Cianjur di Jalan KH Abdullah bin Nuh-Jalan Pangeran Hidayatullah – Jalan Siliwangi dan mengarah ke Kantor Pemkab Cianjur.

Satu jam berselang atau tepatnya pukul 12.00 WIB, pengunjuk rasa tiba di Kantor Pemkab Cianjur dan kembali berorasi. Mereka kembali menyampaikan tujuh tuntutan, di antaranya soal isu reformasi birokrasi, pendidikan dan hal lainnya.

“Kami ingin menyampaikan tujuh isu rakyat yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat. Pertama isu birokrasi reformasi, kemudian pendidikan, hak-hak guru di Cianjur. Kami mahasiswa di Cianjur malu dengan pemkab yang tidak prorakyat,” ujar seorang Kordinator Aksi Abdul Basit.

Seusai berorasi, massa coba memblokir Jalan Siliwangi, tepatnya di depan pintu masuk Pemkab Cianjur yang mengakibatkan kemacetan arus lalu lintas pada pukul 12.30 WIB.

Aksi ini berlanjut dan pada pukul 13.00 WIB, massa mulai membakar ban. Hal ini coba dilerai polisi yang bertugas pengamanan. Akibatnya benturan antara massa pengunjung rasa dan aparat pun tak terhindarkan yang menimbulkan kekacauan.

Saat bentrokan di dekat ban bekas yang terbakar, tiba-tiba kobaran api menyala besar dan menyambar tiga petugas di lokasi. Diduga ada yang menyiramkan bensir di atas kobaran api tersebut.

Akibat peristiwa itu, tiga anggota mengalami luka bakar cukup serius. Identitas mereka yakni AIPTU Erwin (Anggota Bhabinkamtibmas Kelurahan Bojongherang Polsek Kota Polres Cianjur), Bripda Yudi Muslim dan Bripda FA Simbolon (Keduanya anggota Satuan Sabhara Polres Cianjur).

Aksi unjuk rasa yang dilaksanakan gabungan kelompok OKP ini berkiatan dengan kinerja Pemkab Cianjur. Massa menilai, pemerintah daerah telah gagal di masa kepemimpinan Bupati IRM-BHS.

Sementara polisi yang luka bakar langsung dilarikan ke RSUD Cianjur untuk mendapatkan penanganan medis. Seorang bahkan dirujuk ke RS Polri Kramat Jati.

Saat ini, 11 orang pengunjuk rasa diamankan. Mereka ditengarai menyulut api yang mengakibatkan anggota terluka saat menjalankan tugas pengamanan.


Tuntutan Pengunjuk Rasa Demo di Kantor DPRD dan Pemkab Cianjur

- Belum jelas arah 6 program strategis 'Cianjur Jago'

- Belum tegaknya kesejahteraan rakyat Cianjur dalam bidang sosial, pendidikan, kesehatan dan lingkungan hidup.

- Minimnya lapangan pekerjaan.

- Belum terlaksananya reforma agraria sejati, wujudkan kedaulatan pangan.

- Belum terciptanya kesejahteraan ekonomi rakyat.

- Terjadi kapitalisasi di sektor pendidikan sehingga belum terwujudnya Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Cianjur.

- Ketidakberpihakan Pemkab Cianjur terhadap kepentingan rakyat.


Editor : Donald Karouw