Kisah Jasad Guru Ngaji Masih Utuh setelah 17 Tahun Dimakamkan, Ternyata Ini Rahasianya

Yudy Heryawan Juanda ยท Selasa, 18 Januari 2022 - 07:00:00 WIB
Kisah Jasad Guru Ngaji Masih Utuh setelah 17 Tahun Dimakamkan, Ternyata Ini Rahasianya
Kain kafan dan jasad guru ngaji almarhum Muhya bin Rudia relatif masih utuh walaupun telah dimakamkan selama 17 tahun. (Foto: iNews/YUDY HERYAWAN JUANDA)

SUBANG, iNews.id – Kisah jasad guru ngaji Muhya bin Rudia di Kabupaten Subang, Jawa Barat masih utuh meski sudah 17 tahun dimakamkan membuat heboh warga dan netizen. 

Kondisi jasad sang guru ngaji itu masih utuh diketahui saat makam Muhya dibongkar dan jasadnya hendak dipindahkan.

Ujang Ading, murid almarhum menuturkan, semasa hidupnya Muhya bin Rudia memang dikenal baik, saleh, dan rajin beribadah. Almarhum merupakan guru ngaji beberapa generasi di kampung ini. 

"Setiap hari, waktunya banyak dihabiskan di masjid, mengajar mengaji Alquran kepada anak-anak dari generasi ke generasi, dari mulai ayah saya sama saya sendiri pernah mengaji sama almarhum," kata Ujang Ading, Senin (17/1/2022).

Almarhum Muhya meninggal sehabis melaksanakan sholat Ashar. Alamrhum keluar dari masjid. Saat duduk di teras masjid, darah tinggi almarhum kambuh, kemudian pingsan. Saat dibawa dibawa ke rumah, ternyata Muhya bin Rudia telah meninggal dunia.

Jasad almarhum guru ngaji ini dipindahkan pada Minggu (9/1/2022). Namun video pemindahan makam baru viral setelah diunggah di media sosial dua hari lalu. "Almarhum Muhya meninggal saat berusia 65 tahun seusai melaksanakan sholat Ashar," kata Ujang Ading.

Prosesi pemindahan makam almarhum guru ngaji Muhya bin Rudia. (Foto: tangkapan layar video viral/YUDY HERYAWAN JUANDA)
Prosesi pemindahan makam almarhum guru ngaji Muhya bin Rudia. (Foto: tangkapan layar video viral/YUDY HERYAWAN JUANDA)

Video amatir pembongkaran makam dan pemindahan jasad guru ngaji yang masih utuh tersebut viral di media sosial. Rekaman berdurasi 2 menit 50 detik itu memperlihatkan proses pembongkaran makam almarhum Muhya bin Rudia di Dusun Cikadu, Kecamatan Tanjungsiang, Subang, Jawa Barat.

Saat pembongkaran makam berlangsung, warga yang hadir mengenakan kpiah dan membacakan salawat dan doa. Mereka terlihat khusyuk. Tak ada suara lain selain lantunan salawat.

Saat jasad almarhum diangkat dari liang makam, terdengar orang-orang mengucapkan takbir, Allahuakbar, Allahukbar. Sedangkan orang yang berada di atas liang makam langsung membungkus jasad yang masih utuh itu dengan kain kafan yang baru dan bersih.

Betapa terkejutnya para penggali makam saat mendapati kain kafan almarhum sang guru ngaji masih relatif utuh. Selain itu, tubuh sang guru ngaji pun tidak rusak.

Padahal faktanya, jasad almarhum telah terkubur selama 17 tahun. Umumnya, jasad yang telah dimakamkan selama itu pasti hanya tinggal tulang belulang dengan kain kafan yang telah hancur.

Editor : Kastolani Marzuki

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: