Keluarga yang Buka Paksa Peti Jenazah Pasien Covid-19 Laporkan RSUD dan Satgas ke Polisi

Miftahudin ยท Selasa, 06 Oktober 2020 - 19:44:00 WIB
Keluarga yang Buka Paksa Peti Jenazah Pasien Covid-19 Laporkan RSUD dan Satgas ke Polisi
Keluarga pasien Covid-19 memberikan keterangan kepada wartawan terkait alasan mereka melaporkan RSUD Gunungjati dan Satgas Covid-19 ke Polres Cirebon Kota, Selasa (6/10/2020). (Foto: iNews/Miftahudin)

CIREBON, iNews.id - Kasus pembukaan paksa peti jenazah pasien Covid-19 oleh keluarga lantaran pemulasaraannya dinilai tidak sesuai Syariat Islam, berbuntut panjang. Keluarga almarhum, warga Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon, yang tidak terima, akhirnya melaporkan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Gunungjati dan Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 ke Polres Cirebon Kota, Selasa (6/10/2020).

Kedatangan keluarga almarhum jenazah pasien Covid-19 ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Mapolres Cirebon Kota, ditemani sejumlah kerabat. Dalam laporannya, mereka menyebutkan pemulasaraan jenazah atas nama Sugiarto tidak layak dan tidak sesuai syariat Islam.

Istri Almarhum Ratnawati menjelaskan, pihak keluarga melaporkan RSUD Gunungjati dan Gugus Tugas Kota Cirebon ke polisi untuk meminta keadilan. Gara-gara permasalahan pada Senin kemarin, pemakaman almarhum suaminya sempat terbengkalai selama 1,5 jam.

"Kami keluarga tidak terima dengan proses pemulasaraan jenazah. Jenah suami saya masih mengenakan kaos dan popok. Ini tidak sesuai dengan syariat Islam untuk dimakamkan," ujar Ratnawati.

Sebelumnya aksi warga Desa Astana, Kecamatan Gunung Jati, Kabupaten Cirebon, yang membuka paksa peti jenazah pasien Covid-19 saat hendak dimakamkan, viral di media sosial.

Kepala Desa (Kades) Astana Nuril Anwar mengatakan, keluarga meyakini ada kelalaian Satgas Penanganan Covid-19 dan RSUD Gunung Jati Cirebon dalam proses pemulasaraan jenazah. Kelalaian tersebut diindikasikan dari tidak adanya kordinasi tim satuan tugas dan rumah sakit perihal relawan pemakaman. Pihak keluarga hanya menerima jenazah yang sudah berada di dalam peti dari pihak sopir.

“Jenazah itu katanya positif Covid-19. Cuma permasalahannya, pas datangnya jenazah bersama sopir ambulans saja. Jadi pengertian kami, kalau standar penguburan jenazah pasien Covid-19 ada tim dari rumah sakit, pengubur,” kata Nuril Anwar, Selasa (10/6//2020).

Nuril mengatakan, karena yang mengantar jenazah cuma sopir ambulans saja, keluarga pun bingung siapa yang akan menggotong jenazah dari ambulans ke makam. Akhirnya keluarga pasien mendekat ke ambulans tersebut karena jenazah akan digotong.

Pihak keluarga yang mencurigai ada kelalaian tim dari satuan tugas dan rumah sakit akhirnya memberanikan diri membuka peti jenazah. Mereka pun kaget menemukan jenazah masih menggunakan pakaian yang dipakai saat perawatan selama empat hari, tidak dibungkus kain kafan. Pasien juga masih memakai pembalut.

“Mereka merasa ada yang aneh ini. Akhirnya karena sudah emosi, keluarga juga membuka peti tersebut. Ternyata dilihat masih memakai pampers dan baju. Jadi, jenazah dianggap keluarga itu belum suci, belum sempurna,” katanya.

Meski mengundang risiko penularan yang sangat tinggi, keluarga akhirnya memutuskan untuk memandikan dan menguburkan jenazah sesuai dengan Syariat Islam.

Sementara Direktur RSUD Gunung Jati, Ismail Jamaludin sebelumnya mengaku sudah berkoordinasi dengan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kabupaten Cirebon untuk proses pemakaman jenazah pasien Covid-19. Sebab, pihak rumah sakit hanya bertugas mengantarkan jenazah dan tugas penguburan sesuai protokol kesehatan diserahkan kepada aparat desa atau gugus tugas setempat.

“Kami sudah melalukan pemulasaran sesuai dengan protokol kesehatan, apalagi dalam kondisi tertentu diperbolehkan,” ujarnya.

Editor : Maria Christina

Bagikan Artikel: