Kasus Kekerasan Terhadap Anak di Bandung Tinggi, Perlu Keseriusan Penanganan

Arif Budianto · Rabu, 09 Juni 2021 - 11:26:00 WIB
Kasus Kekerasan Terhadap Anak  di Bandung Tinggi, Perlu Keseriusan Penanganan
ilustrasi kekerasan terhadap anak. Foto: Istimewa

BANDUNG, iNews.id - Angka kekerasan terhadap anak dan perempuan di Kota Bandung cenderung meningkat hingga akhir tahun 2021. Berbagai upaya terus dilakukan untuk menekan naiknya kasus kekerasan tersebut.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak (DP3A) Kota Bandung, Rita Verita mengungkapkan, sepanjang 2021 ini kasus kekerasan terhadap anak terpantau cukup tinggi. Sehingga penanganannya memerlukan keseriusan dan perhatian lebih.

“Data kami, kekerasan terhadap anak justru paling tinggi. Menyusul kekerasan terhadap istri atau perempuan," ucap Rita, Rabu (9/6/2021).

Rita memaparkan, hingga Mei 2021 ada sebanyak 75 kasus kekerasan terhadap anak. Sedangkan kekerasan terhadap istri sebanyak 56 kasus.

Dia mengakui, ukuran kota layak anak tidak ditinjau dari kuantitas kasus yang terjadi. Namun, dilihat dari upaya pemerintah setempat menanggulangi masalah kekerasan terhadap anak.

Sejauh ini, Rita bersyukur, Pemkot Bandung selalu merespons maksimal terhadap anak yang menjadi korban kekerasan. Sehingga dalam dua tahun terahir Kota Bandung bisa memperoleh penghargaan sebagai Kota Layak Anak tingkat Nindya.

“Penanganan terhadap kasus kekerasan anak termasuk indikator. Sehingga di dalam penilaian kota layak anak bukan jumlahnya, tetapi bagaimana kita bisa menangani kasus itu,” ujarnya.

Untuk itu, lanjut Rita, DP3A Kota Bandung terus menggenjot optimalisasi Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga). 

Puspaga selalu terbuka lebar bagi warga yang hendak berkonsultasi beragam persoalan keluarga. Termasuk soal kekerasan terhadap anak. Sehingga masyarakat tak perlu sungkan untuk datang ke Puspaga.

Sementara itu, Kepala Seksi Kualitas Keluarga DP3A Kota Bandung, Opie Noviyantie mengatakan, sepanjang tahun 2020 lalu Puspaga Kota Bandung sudah menangani sebanyak 149 kasus. 

Sebagian besarnya yakni persoalan keluarga berlandaskan masalah ekonomi akibat terdampak pandemi Covid-19.

“Mereka ingin mendapatkan konseling bagaimana masalah ekonomi agar jangan sampai terjadi perceraian. Jadi Puspaga lebih ke prepentif pencegahan,” ujar Opie.

Di luar itu, Opie mengingatkan, agar para orang tua tak mengabaikan anak-anaknya. Pola asuh anak ini harus menjadi perhatian agar anak tidak sampai mengalami depresi.

“Orang tua harus mengajak anak ke luar dengan kegiatan kreatif. Seperti berolahraga, berkebun dan kegiatan positif lainnya,” katanya. 

Editor : Asep Supiandi