Ini Sejarah Kodam III/Siliwangi, 75 Tahun Mengabdi Jaga Stabilitas Jabar-Banten
BANDUNG, iNews.id - Komando Daerah Militer (Kodam) III/Siliwangi telah berusia 75 tahun tepat pada 20 Mei 2021. Selama 75 tahun, Kodam III/Siliwangi telah melaksanakan tugas menjaga stabilitas, pertahanan, dan keamanan di Provinsi Jawa Barat dan Banten.
Saat ini, Panglima Kodam (Pangdam) III Siliwangi dijabat oleh Mayjen TNI Nugroho Budi Wiryanto. Sedangkan Kepala Staf Kodam (Kasdam) III/Siliwangi Brigjen TNI Kunto Arief Wibowo.
Sepanjang sejarahnya, sejak masih berbentuk Divisi Siliwangi, Tentara & Teritorium (T & T) III Siliwangi, Kodam VI/Siliwangi, hingga bernama Kodam III/Siliwangi, kesatuan ini telah dipimpin oleh 35 perwira tinggi TNI Angkatan Darat.
Nama-nama mantan pemimpin Kodam III/Siliwangi itu cukup terkenal, sebut saja di antaranya, Jenderal TNI AH Nasution, Alex Evert Kawilarang, PHH Mustopa, Ibrahim Adjie, Aang Kunaefi (mantan Gubernur Jabar).
Kemudian, Yogie S Memet (mantan Gubernur Jabar), Nuriana (mantan Gubernur Jabar), Moeldoko yang saat ini menjabat Kepala Staf Kepresidenan (KSP), dan Doni Monardo saat ini menjabat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Selain esa hilang dua terbilang, Kodam III/Siliwangi kerap kali menggunakan petuah dan semboyan Prabu Siliwangi, seperti silih asah, asih, dan asuh, serta cadu mundur pantrang mulang. Petuah dan semboyan ini terus digunakan untuk memberikan semangat pengabdian dan dedikasi tinggi kepada para prajurit.
Dikutip dari Wikipedia, Kodam III/Siliwangi merupakan komando kewilayahan pertahanan yang meliputi Provinsi Banten dan Jawa Barat. Markas komando dengan motor Esa Hilang Dua Terbilang ini berada di Jalan Aceh Nomor 69 Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat.
Dalam sejarahnya, lima hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 22 Agustus 1945, pemerintah membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR) sebagai wadah perjuangan. Seiring ancaman meningkat atas kemerdekaan yang baru lahir itu, BKR kemudian diubah menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) pada 5 Oktober 1945.
Jawa Barat membentuk Komandemen-I TKR yang membawahi tiga divisi. Divisi-I meliputi Keresidenan Banten dan Bogor yang bermarkas di Serang, Banten; Divisi-II meliputi Keresidenan Jakarta dan Cirebon bermarkas di Linggarjati; dan Divisi-III meliputi Keresidenan Priangan bermarkas di Kota Bandung.
Pada 20 Mei 1946, ketiga divisi tersebut disatukan menjadi Divisi Siliwangi dan bermarkas di Tasikmalaya. Nama Siliwangi terus dipertahankan walaupun nama kesatuan berubah menjadi Tentara & Teritorium (T & T) III Siliwangi pada 24 Juli 1950.
Kemudian menjadi Kodam VI/Siliwangi pada 24 Oktober 1959 dan menjadi Kodam III/Siliwangi 2 Februari 1985. Momentum pemilihan nama Siliwangi pertama kali pada 20 Mei menjadi hari jadi Kodam III/Siliwangi.
Logo atau badge Siliwangi berupa kepala harimau atau macan mengaum yang dipakai oleh setiap prajurit Kodam III/Siliwangi di seragam dinasnya merupakan karya pelukis terkenal, Barli.
Ketika pecah perang Kemerdekaan Republik Indonesia selama lima tahun, antara 1945-1950, Divisi Siliwangi masih bermarkas di Kota Tasikmalaya. Panglima Divisi Siliwangi Kolonel AH Nasution memerintahkan Mayor Lubis untuk mencari seorang pelukis guna mendesain Logo Siliwangi.
Saat itu di Tasikmalaya terdapat beberapa nama pelukis antara lain, Barli, Achmid, Sudjana Kerton, Hendra Gunawan, dan Kustiwa yang masuk dalam Organisasi Pemuda Republik Indonesia.
Dari sekian seniman, terpilihlah Barli dan mendapat tugas dari Kolonel AH Nasution yang memimpin pasukan Jawa Barat untuk mendesain logo pasukannya. Kemudian oleh Barli dibuatlah tiga sketsa.
Sketsa terakhir yang dipilih untuk dijadikan logo Siliwangi, yaitu gambar kepala macan mengaum dengan dasar kuning tampak depan di atas terdapat tanda bintang. Di bawahnya terdapat tulisan SLW yang berarti Siliwangi dengan warna merah dan logo berbentuk lingkaran.
Kemudian Logo Siliwangi dijahit oleh penjahit keturunan China bernama Emay, pemilik Emay Tailor di Jalan Stasiun Nomor 29 Tasikmalaya.
Editor: Agus Warsudi