Begini Penjelasan Ahli Vulkanologi ITB soal Erupsi Gunung Semeru yang Tiba-tiba

Arif Budianto · Minggu, 05 Desember 2021 - 12:19:00 WIB
Begini Penjelasan Ahli Vulkanologi ITB soal Erupsi Gunung Semeru yang Tiba-tiba
Warga berlarian menjauh ketika Gunung Semeru Meletus, Sabtu (4/12/2021) sore. (Foto: Instagram)

BANDUNG, iNews.id - Ahli Vulkanologi Institut Teknologi Bandung (ITB) Mirzam Abdurrachman menjelaskan soal tidak ada tanda-tanda erupsi Gunung Semeru, Sabtu (4/12/2021). Kondisi seperti itu cukup mengejutkan semua pihak karena terjadi secara mendadak tanpa didahului tanda-tanda alam.

Menurut dia, material aliran lahar yang terjadi di Gunung Semeru merupakan akumulasi dari letusan sebelumnya yang menutupi kawah gunung.

“Terkikisnya material abu vulkanik yang berada di tudung gunung tersebut membuat beban yang menutup Semeru hilang sehingga membuat gunung mengalami erupsi,” kata dia dalam siaran persnya, Minggu (5/12/2021).

Menurut Mirzam, saat terjadi erupsi warga cenderung tidak merasakan adanya gempa, akan tetapi tetap terekam oleh seismograf. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya material yang berada di dalam dapur magma. Ini sejalan dnegan laporan Magma Indonesia, visual letusan tidak teramati akan tetapi erupsi ini terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 25 mm dan durasi 5160 detik. 

Dia menjelaskan, kenapa Gunung Semeru bisa meletus. Ada tiga hal yang menyebabkan sebuah gunung api bisa meletus. Pertama karena volume di dapur magmanya sudah penuh, kedua karena ada longsoran di dapur magma yang disebabkan terjadinya pengkristalan magma, dan yang ketiga di atas dapur magma.

“Faktor yang ketiga ini sepertinya yang terjadi di Semeru, jadi ketika curah hujannya cukup tinggi, abu vulkanik yang menahan di puncaknya baik dari akumulasi letusan sebelumnya, terkikis oleh air, sehingga gunung api kehilangan beban. Meskipun isi dapur magmanya sedikit yang bisa dilihat dari aktivitas kegempaan yang sedikit (hanya bisa diditeksi oleh alat namun tidak dirasakan oleh orang yang tinggal di sekitarnya), Semeru tetap bisa erupsi,” ujarnya.

Dosen pada Kelompok Keahlian Petrologi, Vulkanologi, dan Geokimia, Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian (FITB) itu mengatakan, Gunung Semeru merupakan salah satu gunung api aktif tipe A. Berdasarkan data dan pengamatan yang dilakukan, Mirzam berkesimpulan bahwa Gunung Semeru memiliki interval letusan jangka pendeknya 1-2 tahun. Terakhir tercatat pernah juga mengalami letusan di tahun 2020 juga di bulan Desember. 

“Letusan kali ini, volume magmanya sebetulnya tidak banyak, tetapi abu vulkaniknya banyak sebab akumulasi dari letusan sebelumnya,” katanya.

Editor : Asep Supiandi

Halaman : 1 2

Bagikan Artikel: