Siswa SD di Kota Bandung melaksanakan PTM 100 pesen pada tahun ajaran baru 2022 seiring melandainya kasus Covid-19. (FOTO: ARIF BUDIANTO)
Arif Budianto

BANDUNG, iNews.id - Sekolah-sekolah di Kota Bandung menggelar pembelajaran tatap muka (PTM) 100 persen pada tahun ajaran baru 2022. PTM 100 persen dilaksanakan karena pandemi Covid-19 melandai. 

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Bandung Hikmat Ginanjar mengatakan, pelaksanakan PTM 100 persen di Kota Bandung berdasarkan SKB 4 Menteri dan Peraturan Wali Kota Bandung.

"Berdasarkan kebijakan, kegiatan belajar mengajar di Kota Bandung akan digelar secara optimal PTM 100 persen dengan jam pembelajaran sesuai kurikulum," kata Kadisdik Kota Bandung.

Selain itu, ujar Hikmat Ginanjar, beberapa perubahan aktivitas dalam PTM dapat dilaksanakan kembali, seperti ekstrakurikuler dan olahraga. Dengan ketentuan, aktivitas dilakukan di luar ruangan atau ruang terbuka dan tetap memperhatikan protokol kesehatan (prokes).

Sedangkan untuk kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) akan dilaksanakan sesuai kalender Pendidikan Kota Bandung pada 18-20 Juli 2022 secara tatap muka. "Materi MPLS dibuat oleh satuan pendidikan dengan menekankan pada pendidikan karakter dan pembiasaan implementasi profil pelajar Pancasila. Tidak boleh ada unsur perpeloncoan," ujarnya.

Kadisdik Kota Bandung menuturkan, kegiatan MPLS juga tidak boleh memberatkan siswa dan orang tua siswa baik dari aspek fisik maupun materi.

"Satuan pendidikan wajib menyediakan sarana dan prasarana pendukung PTM 100 persen, seperti ruang kelas yang representatif, toilet, tempat cuci tangan dengan air yang mengalir, handsanitizer, masker cadangan, tempat sampah, dan lainnya," tutur Kadisdik.

Dengan fasilitas memadai mampu untuk membantu peserta didik dalam beradaptasi dengan kondisi lingkungan sekolah yang baru. Harapannya, setelah kegiatan MPLS selesai, peserta didik sudah terbiasa dengan kondisi lingkungan sekolah.

Jika MPLS dilaksanakan lebih dari tiga hari, pihak orang tua berhak mempertanyakan alasan di balik keputusan tersebut. "Namun, ada pengecualian bagi sekolah berasrama dengan terlebih dahulu melaporkan kepada Dinas Pendidikan terkait," ucap Hikmat Ginanjar.

Penyelenggara utama teknis kegiatan MPLS adalah para guru dan dibantu oleh siswa Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS) dan/atau Majelis Perwakilan Kelas (MPK). Jika sekolah belum memiliki pengurus OSIS/MPK boleh diwakilkan siswa lainnya yang memiliki catatan akademis dan kelakuan baik.

Apabila ditemukan pelanggaran-pelanggaran, maka sanksi yang diberikan cukup berat, mengacu pada Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 82 Tahun 2015 tentang Pencegahan dan Penanggulangan Tindak Kekerasan pada Satuan Pendidikan dan peraturan perundang-undangan lainnya.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT