Warga Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi yang masih menganut Sunda Wiwitan, menggelar ritual. (Foto: ISTIMEWA)
Tika Vidya Utami

BANDUNG, iNews.id - Indonesia memiliki keberagaman agama atau keyakinan alias kepercayaan. Saat ini terdapat enam agama yang diakui oleh Pemerintah Indonesia, yaitu, Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Di samping itu, Indonesia juga mempunyai kepercayaan asli yang dianut oleh sejumlah masyarakat di Nusantara. Diolah dari berbagai sumber, berikut daftar kepercayaan asli Indonesia:
 
1. Sunda Wiwitan

Warga Kampung Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi menggelar ritual. Mereka sebagian besar masih menganut Sunda Wiwitan. (Foto: ADI HARYANTO)

Sunda Wiwitan merupakan kepercayaan dianut oleh masyarakat suku Sunda. Kepercayaan ini telah ada sebelum datang ajaran Hindu, Budha, dan Islam. Pengikut Sunda Wiwitan dapat ditemukan di Kanekes, Lebak Banten; Ciptagelar Kasepuhan Banten Kidul; Kasepuhan Ciptagelar Cisolok Sukabumi; Kampung Naga Cirebon; dan Cigugur Kuningan; Desa Adat Cireundeu, Leuwigajah, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bogor. 

Penganut Sunda Wiwitan meyakini kekuasaan tertinggi ada pada Sang Hyang Kersa (Yang Maha Kuasa) atau Nu Ngersakeun (Yang Maha Berkehendak). Ajaran ini terkandung dalam Kitab Sanghyang Siksakanda Ng Karesian. Kitab tersebut berisi ajaran keagamaan, tuntunan moral, aturan, dan budi pekerti.

2. Malim

Penganut kepercayaan Malim atau Permalim menggelar ritual. (Foto: Istimewa/pariwisatasumut.net)

Malim merupakan kepercayaan asli suku Batak. Apabila di Islam dikenal Adam dan Hawa sebagai manusia pertama, maka manusia pertama di suku Batak adalah Si Raja Ihat Manisia dan Si Boru Ihat Manisia. Kisah mereka merupakan bagian dari ajaran dan keyakinan Malim.

Pengikut agama Malim, disebut Parugamo Malim atau Parmalim, mempercayai Mulajadi Nabolon sebagai pencipta. Bagi Parmalim, tanah Batak merupakan tanah yang suci. Kawasan ini meliputi daerah Danau Toba dan Pulau Samosir yang menyimpan nilai magis dan ajarannya. Penyampaian ajaran ini dilakukan secara lisan dalam bentuk dongeng (turi-turian).

3. Kaharingan

Penganut kepercayaan Kaharingan di Kalimantan. (Foto: Istimewa/gunungmaskab.go.id)

Kaharingan merupakan kepercayaan suku Dayak. Bagi penghayat Kaharingan, khususnya Dayak Siang, Moho Toro adalah Tuhan. Sama halnya dengan Dayak Ngaju yang mengenal Ranying Hatala Langit. Keduanya mempunyai kitab suci yang bernama Kitab Panaturan. 

Pada 1980 di Kalimantan Tengah, pemerintah berupaya melebur Kaharingan dengan agama Hindu karena dinilai serupa. Namun terdapat beberapa tradisi Kaharingan yang berbeda, yaitu tempat ibadahnya. 

Di Hindu disebut pura, sedangkan di Kaharingan disebut balai basarah. Kepercayaan Kaharingan berkembang melalui tutur oleh tetua adat atau yang mempunyai kemampuan khusus.


4. Marapu

Warga di Sumba, NTT, masih banyak yang menganut kepercayaan nenek moyang, Marapu. (Foto: istimewa/infobudaya.net)

Marapu adalah agama asli sebagian besar masyarakat Sumba. Pengikut Marapu percaya bahwa kehidupan di dunia hanyalah sementara. Setelah akhir zaman, mereka akan hidup kekal di surga Marapu yang dikenal dengan Prai Marapu. 

Keyakinan Marapu berinti pada terjaganya keseimbangan tata kehidupan alam semesta. Dengan keseimbangan alam maka dipercaya mendatangkan keselamatan. Keselamatan akan mendatangkan kebahagiaan.
 
Untuk berkomunikasi dengan arwah leluhur, masyarakat di Kampung Adat Prai Yawang, Desa Rindi mempunyai salah satu rumah khusus yang disebut uma diawa. Rumah ini tidak dihuni oleh pengikut Marapu, melainkan dipercaya sebagai tempat istirahat arwah. 

Pengikut Marapu juga mempunyai simbol kepercayaan terhadap hewan. Misalnya, kerbau yang melambangkan keberanian, sementara kuda sebagai simbol tidak boleh sombong. 

5. Kejawen

Warga Dieng sebagian masih menganut Kejawen. Namun didieng juga terdapat penganut Islam dan Hindu. Mereka hidup rukun dan damai. (Foto: ANTARA)

Kejawen adalah kepercayaan suku Jawa. Dari naskah-naskah kuno Kejawen, dipahami bahwa Kejawen lebih dari seni, budaya, tradisi, ritual, sikap, serta filosofi orang Jawa. Hal tersebut tidak lepas dari spiritualitas orang Jawa.  

Kejawen muncul sebagai bentuk proses perpaduan dari beberapa paham atau aliran agama pendatang dan kepercayaan asli masyarakat Jawa. Seperti diketahui, sebelum agama-agama masuk ke Pulau Jawa, kepercayaan yang dianut oleh orang Jawa adalah animisme dan dinamisme.  

Sejak dulu, orang Jawa memang dikenal mengakui keesaan Tuhan. Pengikut Kejawen tetap melaksanakan adat serta budaya Kejawen yang tidak bertentangan dengan agama yang dianutnya.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT