Ikon wisata Kabupaten Sumedang, Alun-alun Sumedang. Pemkab Sumedang mengembangkan kawasan Butom untuk mengikis ketimpangan ekonomi. (Foto: Istimewa) 
Agung Bakti Sarasa

SUMEDANG, iNews.id - Pemkab Sumedang berupaya mengikis ketimpangan ekonomi di wilayahnya dengan mengembangkan kawasan Buah Dua-Ujung Jaya-Tomo (Butom). Kehadiran kawasan ekonomi baru tersebut ditargetkan mampu mendongkrak kesejahteraan masyarakat, khususnya di wilayah timur Sumedang. 

Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir menyatakan, pihaknya kini tengah berupaya mengakselerasi pengembangan kawasan Butom agar mendapatkan dukungan dari pemerintah pusat. 

Salah satu upaya yang dilakukan pihaknya, yakni menemui Menko Maritim dan Investasi, Luhut B Pandjaitan pekan lalu di Jakarta.

"Pada Pak Luhut kami sampaikan rencana pengembangan kawasan Butom dan meminta dukungan dari pemerintah pusat. Pak Luhut memberikan sejumlah masukan pada kami. Pak Luhut juga sudah menugaskan salah satu deputinya untuk mengawal," kata Dony saat ditemui di Bandung, Selasa (8/6/2021) malam.

Menurutnya, Butom diproyeksikan menjadi kawasan yang berkembang agar persoalan kesejahteraan dan ketimpangan ekonomi di Sumedang bagian timur dapat teratasi.

"Ekonomi Sumedang itu ada ketimpangan. Sumedang bagian barat bersatu dengan Bandung Raya, sementara di timur bersisian dengan Majalengka. Ketimpangan ini tidak boleh terjadi lagi jika Butom menjadi kawasan pertumbuhan baru," tuturnya. 

Pengembangan Butom sendiri, lanjut Dony, selaras dengan rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang tengah mengembangkan kawasan Cirebon-Majalengka-Subang atau yang dikenal dengan Metropolitan Rebana. Dony optimistis, Butom bisa lebih dulu maju dibanding kawasan sekitarnya di Rebana.

Pemkab Sumedang sendiri sudah menyiapkan kawasan peruntukan industri (KPI) Butom bersaing dengan 13 kawasan industri di Metropolitan Rebana. Untuk Butom, kata Dony, pihaknya menawarkan peluang kawasan dan peruntukan yang berbeda. 


KPI Buahdua misalnya, pihaknya menyiapkan lahan seluas 4.129 hektare yang terbagi untuk dua zona industri, yakni zona industri olahraga dan pariwisata. Selain itu, zona industri agrobisnis dan pariwisata dengan lahan yang siapkan seluas 1.147 hektare. 
 
Jarak Buahdua ke Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) di Kertajati, Majalengka mencapai 25 kilometer dan Pelabuhan Patimban 63 kilometer, namun hanya 8 kilometer ke ruas Tol Cisumdawu dan Cipali. 

"Ini posisinya strategis karena juga dekat dengan kawasan (Waduk) Jatigede dan sejumlah obyek wisata," ujarnya.
 
Lalu Ujungjaya dan Tomo. Dengan lahan sekitar 2.981 hektare, KPI yang meliputi 8 desa ini sudah dirancang lebih komprehensif di mana industri yang masuk ke wilayah tersebut akan terbagi dalam industri hulu atau andalan, industri antara, dan industri hilir. 
 
Untuk industri hulu misalnya, disiapkan kawasan untuk industri bahan bangunan, pangan, kimia farmasi dan kosmetik hingga alat transportasi dan pergudangan. Sementara untuk zona industri antara, yakni jasa industri, barang modal, dan industri pengolahan kayu. 

"Industri hulu kami arahkan pada industri logam dasar dan bahan galian bukan logam, industri hulu agro, dan industri serat. Saat ini, sudah ada beberapa perusahaan eksisting di wilayah Ujungjaya dan Tomo. Nanti salah satu interchange Tol Cisumdawu ada di Ujungjaya. Tomo itu luas lahan yang disiapkan 397 hektare, Ujungjaya 2.584 hektar," tutur Dony. 


Menurutnya, dengan kesiapan infrastruktur dan regulasi, pihaknya pun menjamin pelayanan investasi di kawasan tersebut makin dipermudah dengan standar yang baik usai berdirinya Mal Pelayanan Publik (MPP). 

"Perizinan di kami itu paling lama lima hari," katanya. 


Editor : Asep Supiandi

BERITA TERKAIT