Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Rudie Trihandoyo. (Foto: iNews/AGUS WARSUDI)
Agus Warsudi

BANDUNG, iNews.id - Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Bandung menyelidiki kasus dugaan pencabulan sesama jenis antaranak di bawah umur yang terjadi di Kota Bandung. Saat ini, penyidik akan memeriksa beberapa saksi terkait kasus tersebut.

"Betul perkara tersebut ditangani oleh Polrestabes Bandung. Identitas anak (baik korban maupun terduga pelaku) tidak bisa kami tampilkan dan disamarkan. Namun, kami hanya membenarkan sedang menangani perkara tersebut," kata Kasatreskrim Polrestabes Bandung AKBP Rudie Trihandoyo kepada wartawan melalui telepon seluler, Selasa (27/9/2022) malam.

AKBP Rudie Trihandoyo menyatakan, penyidik akan memintai keterangan sejumlah saksi dan melibatkan berbagai pihak dalam penanganan kasus. Sebab, kasus dugaan pencabulan sesama jenis tersebut melibatkan anak di bawah umur, baik pelaku maupun korban.

Diberitakan sebelumnya, Kota Bandung digegerkan oleh kasus dugaan pencabulan sesama jenis, laki-laki dan laki-laki yang diduga dilakukan oleh anak di bawah umur. Kasus ini, telah dilaporkan nomor LP/B/IX/2022/SPKT/Polrestabes Bandung dan dalam penyelidikan Unit PPA Satreskrim Polrestabes Bandung.

Dugaan pencabulan sesama jenis itu terungkapnya setelah masyarakat melaporkannya ke Ketua Partai Golkar Kota Bandung Edwin Sanjaya. Setelah menerima laporan, Edwin Sanjaya meminta Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Partai Golkar Kota Bandung mendampingi para korban.

"Ketua kami, Ketua Partai Golkar Kota Bandung Edwin Sanjaya mendapatkan laporan dugaan kasus pencabulan di bawah umur yang dilakukan oleh laki-laki dan laki-laki," kata Perwakilan LBH Partai Golkar Kota Bandung Reyraya Respati Paramudhita kepada wartawan, Selasa (27/9/2022).

Reyraya Respati Paramudhita menyatakan, identitas pelaku dan korban dalam kasus itu tidak bisa diungkap ke publik karena masih sama-sama di bawah umur. Terduga pelaku dalam kasus itu  satu orang, berstatus sebagai pelajar SMP. 

Sedangkan korban dua orang, salah satunya masih duduk di bangku sekolah dasar (SD). Korban dan pelaku disebut saling mengenal dan merupakan teman bermain. "Yang jelas, korban anak di bawah umur usia kelas 6 SD dan pelakunya adalah kelas 1 SMP," ujar Reyraya Respati Paramudhita.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT