Personel grup band Tibiast saat memperkenalkan album perdana mereka berjudul Melawan Masa. (Foto: ARIF BUDIANTO)
Arif Budianto

BANDUNG, iNews.id - Pandemi tak hanya membuat sebagian orang sulit bergerak bebas akibat keterbatasan ruang, tetapi juga membawa masyarakat lebih kritis. Kekritisan itu juga muncul dari mereka yang konsen di dunia musik, seperti grup band asal Kota Bandung satu ini. 

Mereka menuangkan kritik terhadap kondisi sosial dalam sebuah album. Genre yang dibawakan pun groove metal. Adalah grup band Tibiast yang digawangi oleh Radit (vokal), Rafly (guitar), Uca (guitar), Kiming (bass), dan Fikry (drum).

Ya, cerita perihal Tibiast berawal dari niat sisa-sisa anggota unit punk Bandung bernama Resist. Mereka komitmen melanjutkan proyek musikal mereka yang dalam prosesnya akhirnya melibatkan 90 persen anggota baru dan menghasilkan musik yang benar-benar baru.

Komitmen baru benar benar jauh dari apa yang Resist hasilkan di masa sebelumnya. Begitu berbedanya hingga mereka memutuskan memakai nama baru pada album perdananya yang diproduksi pada masa pandemi. 

Tibiast merupakan revivalis, dalam hal ini mereka memainkan subgenre metal yang pernah populer di pertengahan hingga akhir 90-an bernama groove metal. Meramu metal dengan agresi hardcore-metal ala pro-pain.

Mereka pun meramu kecepatan ala thrash atau crossover. Begitupun dengan ritme yang bertumpu pada groove mid-tempo yang dipopulerkan Sepultura pascaalbum Chaos AD (Refuse/Resist) dan Roots

"Lega akhirnya setelah hampir dua tahun tertahan akibat pandemi, kami berhasil membangun dan merilis album perdana. Ini hasil upaya dan kerja keras kami dan dukungan komunitas punk Bandung hingga album perdana ini rilis," kata vokalis Tibiast, Radit. 

Menurut dia, album "Melawan Massa" merupakan debut album mereka yang penuh dengan pengaruh Sepultura, Machine Head era awal hingga Brujeria. Hal itu tampak pada komposisi berderu yang menghasilkan tempo kencang thrashy pada lagu “Serdadu Anak Bangsa”, “Smoke Bomb” dan “Kera Jelaga”, lagu anthemik seperti “Bad Social” dan “Melawan Masa”.

"Melawan Massa, menunjukkan betapa sulitnya di masa pandemi. Tapi bukan berarti kita harus menyerah. Ada harapan semua bisa kembali membaik, berjuang, dan selalu positif. Album ini berisi kritik sosial tentang stop kerusakan alam, ketidakadilan sosial, korupsi, dan lainnya," ujarnya. 

Yang menarik, grup band ini tak angkuh dengan kemampuan mereka sendiri. Mereka hadir berkolaborasi dengan unit hip hop Eyefeelsix, hingga track atmosferik yang memberikan kanvas sonik bagi rapalan Budi Dalton. 

Lewat kolaborasi ini, Tibiast mengantarkan cerita, kritik, seruan di depan penghancuran ekologi, deforestasi, tatanan sosial dengan segala penyakit uzurnya seperti rasisme dan pemerintahan yang korup.

Dari 11 lagu pada album ini, mereka pun mendatangkan vokal dari Popo (Demons Damn), Lord Butche (The Cruel) dan Bobby (Turbidity), juga lead gitar dari Lucas and Sons. Dirilis dalam format CD berisikan 11 lagu, dan 1 bonus track, dengan artwork sampul album dari Anzi Matta.


Editor : Agus Warsudi

BERITA TERKAIT