Fenomena upwelling terjadi ketika massa air dari lapisan bawah bergerak ke permukaan. Perubahan kondisi perairan yang berlangsung cepat dapat membuat ikan di dalam keramba mengalami gangguan hingga mati dalam jumlah besar.
Perubahan cuaca ekstrem dan angin kencang kali ini diduga menjadi pemicu pergerakan massa air tersebut. Namun, dampak yang terjadi di blok-blok lain masih belum diketahui.
Muhyi memperkirakan jumlah ikan mati masih dapat bertambah karena laporan yang sudah diketahui baru berasal dari Blok Salam.
"Menurut dia, itu baru di Blok Salam saja. Untuk blok lain di perairan Waduk Cirata Jangari saya tidak tahu, kemungkinan banyak ikan mati juga," katanya.
Pembudidaya berharap pemerintah melakukan pendataan di seluruh kawasan Waduk Cirata Jangari. Data tersebut diperlukan untuk mengetahui total kerugian sekaligus menentukan langkah antisipasi terhadap fenomena upwelling yang berulang setiap tahun.
Hingga Rabu (9/9/2026), belum ada angka pasti mengenai total ikan yang mati dan kerugian pembudidaya di seluruh kawasan. Untuk sementara, sekitar 10 ton ikan di Blok Salam tercatat mati dengan estimasi kerugian mencapai Rp250 juta.
Editor : Kurnia Illahi
Artikel Terkait