get app
inews
Aa Text
Read Next : Belajar Tatap Muka di Purwakarta 11 Januari 2020, Ini Respons Orang Tua

Tolak KBM Tatap Muka Awal Januari, Ini Saran FAGI Jabar soal Belajar Daring

Selasa, 22 Desember 2020 - 17:05:00 WIB
Tolak KBM Tatap Muka Awal Januari, Ini Saran FAGI Jabar soal Belajar Daring
Ilustrasi PPDB daring (Antara)

BANDUNG, iNews.id - Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) meminta agar rencana kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah awal 2021 ditunda. Mereka menilai, pembelajaran jarak jauh membuat psikologis siswa lebih baik dan aman dari penyebaran Covid-19.

Hasil penelitian Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia yang melibatkan sekitar 15.000 siswa, menemukan bahwa kondisi psikologis siswa yang mengikuti PJJ justru lebih baik dibandingkan mereka yang mengikuti pembelajaran secara tatap muka. PJJ juga ditemukan tidak menimbulkan stres yang lebih tinggi daripada metode pembelajaran lainnya.

Sehingga, menurut Ketua FAGI Jabar Iwan Hermawan, banyaknya keluhan terkait PJJ karena berbagai persoalan yang belum dikuasai siswa, orang tua, dan guru. Menurut dia, kegagalan PJJ selama ini karena sebagian besar guru dan orang tua kurang memahami  regulasi PJJ yang telah di keluarkan oleh Kemendikbud.

Berdasarkan Surat Edaran Sekjen Kemendikbud Nomor 15/2020 tentang Pedoman Penyelenggaraan Belajar dari Rumah dalam Masa Darurat Penyebaran Covid-19, pelaksanaan kegiatan belajar dan mengajar sangat disederhanakan. Materi pelajaran direduksi sebagian cukup yang esensinya saja yang diberikan siswa.

"Sayangnya, hasil pengamatan FAGI hanya sebagian kecil guru dan orang tua yang sudah membaca regulasi tersebut. Sehingga pelaksanaan penilaian hasil belajar siswa, penilaian kinerja guru dan penilaian kinerja kepala  sekolah masih menggunakan instrumen masa normal," terang Iwan.

Sebenarnya, kata dia, pemerintah sebetulnya sudah lama melakukan PJJ, dalam pelaksanaan SD,SMP dan SMA terbuka, termasuk Universitas terbuka. Modul sudah disiapkan sejak dulu, lalu kenapa tidak mengadopsi PJJ sekolah dan Universitas terbuka tersebut.

Iwan menyarankan, bila PJJ tetap akan digelar, mestinya mempertimbangkan beberapa hal. Pertama, meningkatkan kapasitas dan keterampilan guru dalam hal pengelolaan kelas dan penyampaian materi belajar yang sesuai dengan konsep PJJ. Guru diharapkan lebih percaya diri dalam memberikan materi saat PJJ.

Kedua, guru juga disarankan untuk dapat meningkatkan kemampuannya dalam memberikan dukungan psikososial pada siswa. Pemberian keterampilan dukungan psikologis awal (DPA) adalah salah satu alternatif kegiatan yang dapat diberikan pada guru.

Ketiga, memberikan bantuan pada orang tua atau pendamping belajar selama PJJ agar lebih mudah memahami proses belajar yang sedang dijalani anak. Salah satunya dengan menyiapkan modul-modul belajar untuk pengayaan bagi pendamping belajar anak atau orang tua.

Editor: Asep Supiandi

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya

iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut