TKI Etty yang Pulang dari Arab Saudi Positif Covid-19

Mohamad Zeni Johadi ยท Sabtu, 11 Juli 2020 - 12:50 WIB
TKI Etty yang Pulang dari Arab Saudi Positif Covid-19
Ety binti Toyyib Anwar disambut Menaker Ida Fauziyah dan Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid di Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Senin (6/7/2020). (Foto: Sindonews/Abdul Rochim).

MAJALENGKA, iNews.id - Tenaga Kerja Indonesia (TKI) Etty Binti Toyib yang pulang dari Arab Saudi usai bebas hukuman mati positif virus corona (Covid-19). Hal itu diketahui berdasarkan tes swab.

Etty rencananya akan pulang ke kampung halamannya Desa Cidadap, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Warga pun siap menyambut kedatangan Etty dengan memasang spanduk, dan mendirikan tenda.

"Kami sudah mempersiapkan penjemputan saudari Etty yang masih di Jakarta tapi informasi hasil tes swabnya positif," ucap Kepala Desa Cidadap Suntono, Sabtu (11/7/2020).

Etty saat ini melakukan karantina di Wisma Atlet Kemayoran Jakarta selama 14 hari. Perangkat desa akan tetap menyambut Etty usai diperbolehkan pulang jika hasil negatif corona.

"Insyaallah setelah dia dikarantina 14 hari mungkin akan ditindaklanjuti pemulangan," ucap dia.

Seperti diketahui, Etty Toyib Anwar divonis hukuman mati karena membunuh majikannya warga negara Arab Saudi, Faisal bin Said Abdullah Al Ghamdi dengan cara diberi racun.

Tiga bulan setelah Faisal Bin Said Abdullah Al Ghamdi meninggal dunia, seorang WNI bernama EMA atau Aminah (pekerja rumah tangga di rumah sang majikan) memberikan keterangan bahwa Etty Toyib telah membunuh majikan dengan cara meracun. Pembicaraan tersebut direkam seorang keluarga majikan.

Rekaman tersebut diperdengarkan penyidik saat mengintrogasi Etty Toyib Anwar pada 16 Januari 2002 malam. Usai pemeriksaan tersebut, Etty Toyyib mengaku telah membunuh majikannya.

Pemerintah Indonesia akhirnya bisa membebaskan Etty dari hukuman mati dengan patungan membayar uang denda sebesar Rp15,2 miliar. Kasus Etty terjadi sejak 2001 dan sudah menjalani masa penahanan selama 19 tahun.

Dana Rp12,5 miliar tersebut dihimpun LAZISNU selama 7 bulan dari para dermawan santri, dari kalangan pengusaha, birokrat, politisi, akademisi, dan komunitas filantropi. Termasuk dari Pemprov Jawa Barat.


Editor : Faieq Hidayat