Tekan Harga Kedelai, Produsen Tahu dan Tempe Bakal Ajukan Impor Mandiri 

Arif Budianto · Jumat, 02 April 2021 - 11:26:00 WIB
Tekan Harga Kedelai, Produsen Tahu dan Tempe Bakal Ajukan Impor Mandiri 
Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifuddin (kanan) dan Sekretaris Umum Gakoptindo Hugo Siswaya (kiri) saat memperkenalkan produk olahan kedelai. (Foto: iNews.id/Arif Budianto) 

BANDUNG, iNews.id - Produsen tahu dan tempe di Indonesia yang tergabung dalam Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia (Gakoptindo) bakal mengajukan importasi mandiri komoditas kedelai kepada pemerintah. Hal itu sebagian respons atas masih tingginya harga komoditas ini di Indonesia. 

Menurut Ketua Umum Gakoptindo Aip Syarifuddin, rencana importasi kedelai telah disepakati oleh seluruh perwakilan anggota pada Rapat Anggota Tahunan Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indoensia ke-XI tahun 2020 di Bandung. Rencana itu menjadi salah satu agenda organisasi.

"Setelah ini, kami baru akan ajukan kepada pemerintah. Nanti akan kami bicarakan terkait kuota dan lainnya dengan pemerintah," kata Aip di Hotel El Royal, Jalan Merdeka, Kota Bandung, Jumat (2/4/2021).

Hasil komunikasi dengan beberapa kementerian terkait, pihaknya mengaku sudah mendapat lampu hijau. Terkait rencana ini, kata dia, juga pernah dikomunikasikan secara langsung kepada Presiden Joko Widodo. Saat itu, presiden meminta agar kementerian terkait bisa memberi peluang importasi bagi mereka, dengan tetap mengedepankan kedelai lokal.

Menurut Aip, langkah importasi kedelai secara mandiri penting karena selama ini harga kedelai dikuasai importir. Akibatnya pada 2020 lalu, harga kedelai naik dari Rp7.000 menjadi 9.500 per kg. Saat ini, harga kedelai juga masih dikisaran Rp10.000-an. "Kondisi itu menyebabkan kami melakukan aksi mogok produksi, karena harga terus naik," ujar dia.

Dia berharap, dengan melakukan importasi sendiri, harga kedelai bisa ditekan. Karena alur distribusi bisa diputus, hanya dari koperasi langsung ke produsen tahu dan tempe. Berbeda dengan kondisi saat ini, kedelai dikuasai importir dengan alur distribusi panjang. Sehingga harga yang diterima produsen mahal.

Editor : Asep Supiandi

Halaman : 1 2